Ayah Trina O’Dell dulu adalah seorang ventriloquist dengan profesi itu dia mencari nafkah dan kini Dad mempunyai toko kamera. Dia tampil sebagi ventriloquist di berbagai pertunjukan dan Danny O’Dell & Wilbur itu nama acaranya dan Wilbur adalah nama bonekanya. Itu sebabnya ia menyimpan banyak boneka buatannya di kamar loteng rumahnya. Ia menyebut loteng itu Museum Boneka. Berbagai boneka ada disana mulai dari yang berwajah berbintik-bintik, yang senyumnya menyeringai, yang matanya melotot galak. Bagi Trina dan adiknya yang bernama Dan koleksi boneka itu asyik juga.
Tapi belakangan ini Dad sudah jarang menggunakan keahliannya itu sebagai ventriloqusit. Sebenarnya Dad cukup berbakat dalam bidang vantriloquist dan salah satu boneka miliknya adalah Rocky boneka ini bertampang jahat, wajahnya menyeringai, bukan tersenyum. Ia berpakaian seperti jagoan, dengan T-shirt bergaris merah-putih dan celana jeans hitam. Pada saat itu Dad mengeluarkan boneka dari plastik yang terletak di tempat sampah. Dan boneka itu berambut kriting berwarna coklat, tampangnya agak aneh, agak tegang, matanya berwarna biru cerah, dan mulutnya berwarna merah.
Lalu Dad memberi nama untuknya Smiley.Didalam kantong jas boneka itu terdapat sebuah kertas lalu Trina dan adiknya membuka dan membaca isinya yang berisi “karru marri odonna loma molonu karrano.”
Zane adalah bukan sepupu favorit Trina dan Dan. Sayangnya ia satu-satunya sepupu mereka. Kelakuannya yang norak dan hidungnya hampir selalu mengeluarkan ingus membuat mereka jiji. Saat itu Zane memasuki kamar Trina dengan pelan-pelan karena pada waktu itu Zane tidak bisa tidur. Dan Zane sempat membangunkan Trina yang sedang tertidur pulas. Lalu dengan tiba-tiba Zane ingin makan sereal dan akhirnya Zane dan Trina pergi ke dapur dan mengambil sereal. Tetapi mereka dikagetkan dengan boneka Rocky yang duduk ditengah ruang tamu dengan senyum yang menyeringai dan duduk tegak di kursi dengan pandangan yang kosong.
Lalu mereka menduga bahwa yang menaruh boneka Rocky di ruang tamu adalah Dan dan akhirnya mereka mencoba memastikannya lalu mereka menuju kamar Dan. Dan Dan masih terlihat tidur nyenyak dan susah dibangunkan
Dari situ mulai timbul permasalahan dan Dad menyangka yang melakukan semua ini adalah Trina dan adiknya Dan. Lalu Dad melarang Trina dan Dan main keluar rumah dan melarang untuk ikut perkemahan di musim panas. Lalu Trina menuju loteng dan sampai diatas Trina mulai melampiaskan kemarahannya pada semua boneka. Tapi tak disangka ada Dan disana. Lalu Dan mengajak Trina untuk sama-sama menyelidiki Zane dan mencurigai Zane sebagai pelakunya. Setelah disetujui, akhirnya mereka mulai sembunyi dibalik sofa boneka-boneka itu disimpan. Beberapa lama kemudian, ada seseorang yang masuk ke loteng dan Trina dan Dan sama-sama memperegoki orang itu. Berhasil dia adalah Zane rupanya Zane ingin balas dendam sehingga dia melakukan semua ini.
Akhirnya setelah Zane tertangkap basah ingin mencuri Rocky, dia, Trina dan Dan berdamai. Lalu setelah itu, mom mengundang acara makan malam untuk menghormati Zane dan Uncle Cal.
Setelah beberapa hari, terjadi keributan dan semakin menegangkan. Boneka yang bernama Smiley itu hidup dan dia membantah kalau namanya bukan Smiley tapi Slappy. Dan smiley menganggap Trina dan Dan adalah budaknya dan harus melayaninya. Tapi Dad tidak percaya tentang semua ini karena setiap Dad muncul Slappy selalu berlagak seperti layaknya boneka mati. Dan Dad menghukum mereka berdua. Setelah mereka sudah mencoba berkali-kali untuk menyingkirkan Slappy, tapi tetap tidak mempan. Dan suatu hari Zane berpamitan untuk pulang dia ditanya oleh Dad untuk hadiah terakhir dan Zane meminta sebuah boneka lalu Dad menyuruh Trina memberinya boneka yang bagus. Lalu Slappy yang diberinya dan setelah itu, Slappy mengedipkan mata pada Trina. Dan Trina tahu akan ada petualangan yang akan dialami Zane bersama Slappy.
C.Tokoh-tokoh yang Terdapat pada Novel
-Trina
-Dan
-Slappy
-Dad (O’Dell)
-Mom
-Zane
-Uncle Cal
-Rocky
D.Penilaian Tentang Novel Terjemahan
·Kelemahan
Bahasa yang digunakan cukup menarik, walaupun ada bahasa campuran dalam novel terjemahan. Tetapi, masih ada kata-kata yang belum dapat dipahami dan sulit untuk dihafal.
·Kelebihan
-Menarik untuk dibaca, dan jelas dapat dipahami.
-Cerita yang dibahas dalam novel ini tidak terlalu rumit.
Diam-diam aku memerhatikannya sedari tadi. Dari tempatku duduk sebagai notulen, gerak-geriknya terbaca jelas. Sangat jelas. Bahkan orang bodoh pun tahu, dia sangat gelisah. Dia baru tiba saat pembawa acara baru saja selesai membacakan agenda pertemuan hari ini. Rambut panjangnya yang tergerai berayun-ayun mengikuti langkahnya yang tergesa. Sesaat dia berhenti di ambang aula. Matanya berkeliling mencari-cari tempat duduk yang kosong. Hanya kursi di barisan depan yang masih tersisa. Dengan enggan, tapi berusaha tetap terlihat elegan, dia pun mengambil tempat duduk di kursi pojok barisan depan. Jauh dari orang tua murid yang lain.
Sedari tadi dia tidak tenang. Seperti ada bara di bawah pantatnya yang menggunung itu. Pantat yang terlalu kencang untuk perempuan yang sudah tiga kali melahirkan. Memang sering kali kulihat mobilnya terparkir di depan fitness center di samping sekolah. Tapi aku curiga, pantat itu bukan hanya didapatnya melulu melalui latihan-latihan di fitness center itu. Entah apa yang sudah dijejalkannya di dalam sana, sehingga si pantat bisa berbentuk sedemikian rupa. Digeser-gesernya duduknya. Kadang ke kanan, kadang ke kiri, ke depan, ke belakang. Aku sempat khawatir kalau-kalau celananya yang berbahan halus dan mahal itu akan sobek karena bergesekan dengan kursi yang didudukinya. Bolak-balik diangkatnya tangannya untuk menengok jam berlapis emas putih di pergelangan tangannya itu. Padahal sudah ada jam tergantung di dinding aula. Seakan dia ingin memastikan kalau jarum jam dinding itu sudah berputar sebagaimana seharusnya.
Sesekali dihelanya nafasnya. Beban ribuan ton rupanya menimpa dadanya yang penuh (terlalu penuh juga untuk ukuran perempuan yang sudah tiga kali melahirkan?). Sebentar kaki kanannya disilangkan ke kaki kirinya. Sebentar kemudian diturunkannya. Ganti kaki kirinya yang disilangkan ke kaki kanannya. Begitu seterusnya. Kini kedua kaki langsingnya sedang mengetuk-ngetuk lantai tanpa irama. Untung saja bunyi ketukan sandalnya tertelan gemuruh suara orang-orang berbisik di aula ini. Sementara itu kepalanya terus berkeliling. Kalau tidak menunduk berlagak mencari-cari sesuatu dari dalam tas kulit merk luar negerinya. Sekilas dapat kulihat setitik keringat meluncur di dahinya yang putih mulus. Tentu saja keringat itu tak akan melunturkan riasannya. Maklum harga seperangkat make up yang dikenakannya setara dengan sebulan gajiku sebagai guru di sini.
Aku terpaksa mengangguk (sok) ramah padanya ketika tatapan kami bertemu. Sekedar untuk menyembunyikan seringai yang terlanjur muncul di ujung bibirku. Dia membalasku dengan anggukan dan senyuman teramat tipis sembari dengan angkuh mengangkat dagunya. Kini benar-benar kunampakkan seringaianku, tanpa usaha untuk menutupinya lagi. Sesaat kemudian aku berpaling, kembali berlagak serius mendengarkan paparan kepala sekolah mengenai pencapaian-pencapaian sekolah kami di tahun ajaran ini. Paparan yang terlalu panjang dan terlalu lebar. Membosankan. Kenapa tidak langsung ke menu utama saja, pengambilan rapor. Aku sudah tak sabar.
****
Tinggal kami bertiga di ruang kelas ini. Aku yang sedang melayani Bu Mira, dan dia yang duduk dengan gelisah di deretan kursi tunggu yang kosong. Perilaku gelisahnya sama persis dengan sewaktu dia ada di aula tadi: pantat digeser-geserkannya, kaki ditopangkan bergantian kalau tidak diketuk-ketukan di lantai, pandangan berkeliling atau menunduk berlagak mencari-cari sesuatu dalam tas, maupun jam tangan yang berkali-kali ditengoknya. Dagunya mendongak setiap kali mata kami bersitatap. Dasar angkuh! Aku tahu dia sedang memakiku habis-habisan dalam hatinya. Biar saja, memang kusengaja. Setelah pertemuan di aula selesai, para orang tua dipersilakan masuk ke ruang kelas anak mereka masing-masing untuk menerima pembagian rapor. Dan kira-kira sejak dua jam yang lalu dia sudah duduk di sini menunggu giliran kupanggil menghadapku untuk mendapatkan rapor anaknya.
Dari lima belas muridku, anaknya memang nomor absen terakhir. Jadi bukan salahku jika sampai saat ini dia belum juga kupanggil. Aku baru sampai nomor absent empat belas. Rachel, anak Bu Mira. Hanya saja, aku memang sengaja berlama-lama berbincang dengan setiap orang tua murid. Kujelaskan sampai sedetail-detailnya perkembangan anak mereka selama satu tahun ajaran ini. Hal yang tidak perlu kulakukan sebenarnya. Perkembangan setiap anak didik sudah tercantum dalam rapor khusus kami yang berupa laporan narasi deskriptif. Belum lagi jika kebetulan sang orang tua murid memang suka ngobrol, pembicaraan bisa melebar sampai ke mana-mana. Seperti yang sedang kulakukan dengan Bu Mira ini.
“Ibu ini bisa aja!” Bu Mira tertawa panjang. Muka putihnya bersemu merah. Bu Mira bercerita kalau Rachel baru saja menjadi juara satu lomba wajah fotogenik. Aku bilang pantas saja, karena dia mewarisi kecantikan ibunya. Gombal sekali memang, tapi yang seperti ini orang tua murid suka. Dimasukkannya rapor, laporan perkembangan, dan beberapa lembar pengumuman ke dalam tas, lalu dikeluarkannya sebuah bungkusan dari dalam tasnya.
“Rachel sendiri yang memilih, Bu. Semoga suka!” Tangannya mengangsurkan sebuah kotak kecil yang terbungkus kertas kado bergambar kartun Naruto. “Aduh, malah merepotkan!” kataku berbasa-basi, “terima kasih banyak lho, Bu!”
“Ah, biasa aja! Terima kasih banyak Bu, sudah membimbing Rachel. Maaf, sudah banyak merepotkan!”
“Tidak apa-apa, Bu, sudah menjadi tugas saya!” Jawaban ini sudah secara mekanis keluar dari mulutku setiap semesternya.
“Mari Bu, saya permisi!” Bu Mira beranjak keluar ruang kelas.
“Terima kasih, Bu. Salam buat Rachel!”
Kutumpukkan bingkisan dari Bu Mira di atas bingkisan-bingkisan orang tua murid sebelumnya. Selain bingkisan-bingkisan itu ada beberapa amplop di dalam laci mejaku. Hatiku bertanya-tanya, apa gerangan yang dibawa oleh perempuan yang kini sedang melangkah menghampiriku ini. Setelah parcel segede gunungnya yang kukembalikan seminggu yang lalu! Hari gini menyogok guru agar mau mengatrol nilai! Rupanya dia sudah merasa rapor anaknya bakalan jelek. Ardian, anaknya, memang berkebutuhan khusus. Gangguan konsentrasinya membuatnya sulit mengikuti pelajaran. Nilai-nilainya selalu di bawah teman-temannya. Tidak hanya itu, agaknya dia juga mulai sadar kalau kelakuannya padaku selama ini bisa saja membuatku mengurangi nilai-nilai anaknya.
Sebenarnya kesempatan ini sudah kutunggu-tunggu. Pembalasan dendamku untuk perempuan berpantat terlalu kencang dan berdada terlalu penuh yang angkuh ini. Di sinilah ajang pembuktianku bahwa aku bukan orang sembarangan. Bahwa aku punya kekuasaan. Kalau sebenarnya dia tidak bisa macam-macam denganku. Sebagian masa depan anaknya aku yang menentukan. “Mari, Bu, silakan duduk!” Tanpa sepatah kata dia hanya tersenyum tipis, duduk di hadapanku. Senyum bernada segan. Bukan senyum sinis seperti yang beberapa kali dilemparkannya padaku, saat dia mencercaku. Untuk penilaian-penilaiannya padaku: guru konvensional, guru pilih kasih, guru yang kurang perhatian, dan lain-lain.
Aku berlagak sibuk menyiapkan rapor, laporan perkembangan, dan beberapa lembar pengumuman yang akan kuberikan kepadanya. Sedangkan sudut mataku mencuri-curi pandang wajah cemasnya. Wajahnya yang pucat. Seperti aku ini hantu baginya. Dalam hatiku tertawa. Mati kau, kutukku. Kutumpukkan berkas-berkas yang akan kuberikan padanya di sudut meja. “Selamat pagi, Bu!” Kataku sambil menjabat tangannya yang dingin. Tangan yang pernah melemparkan kertas ulangan anaknya ke mukaku, sembari berkata kalau percuma saja bayar mahal-mahal kalau lagi-lagi dapat nilai lima puluh. Tanganku menjadi ikut basah oleh keringat di telapak tangannya. “Pagi …, pagi Bu,” jawabnya tanpa bisa mengatasi kegugupannya.
Lagi-lagi dalam hatiku tertawa. Teringat aku bagaimana dia meneleponku malam-malam, tanpa ucapan selamat malam, hanya untuk menanyakan keberadaan pensil atau penghapus anaknya yang hilang. Setengah mati aku berusaha menyembunyikan tawaku. “O ya, Bu. Mohon maaf sebelumnya. Kemarin terpaksa saya mengembalikan bingkisan Ibu. Bukannya apa-apa, Bu. Peraturan sekolah melarang guru menerima bingkisan dari orang tua murid sebelum rapor dibagikan. Saya tidak berani melanggarnya, Bu. Semoga Ibu maklum.” Padahal mana ada sekolah mengatur perihal itu. Macam pejabat saja, dilarang menerima gratifikasi. “Tidak apa-apa, Bu. Saya yang minta maaf. Saya tidak tahu ada peraturan seperti itu di sini. Di sekolah Ardian yang dulu diperbolehkan. Saya hanya bermaksud mengucapkan terima kasih saja.” Dia menelan ludah sebentar. “O ya, bagaimana Ardian, Bu Lily?” Wajahnya terlihat sangat memelas. Layaknya pengemis yang sudah tiga hari tidak makan memohon sedekah saja. Ke mana gerangan dongakan dagunya yang angkuh itu? Ho ho, betapa aku rindu!
Kuambil tumpukan berkas di sudut meja. Sengaja tidak segera kuserahkan kepadanya. “Mohon maaf, Bu. Sejak kepindahan Ardi awal semester dua ini, saya sudah berusaha sebaik mungkin membimbing Ardi ….” Kalimatku menggantung. Berkas-berkasnya masih di tanganku. Wajahnya seperti orang yang sudah mati saja. Seperti tidak ada lagi darah yang mengalir di pembuluh darahnya. Matanya berkaca-kaca. Bibirnya gemetar. “Ja … jadi … bagaimana, Bu? Bisa tidak naik ke kelas tiga?” Pertanyaannya lebih terdengar sebagai ratapan.
Tapi aku tidak juga jatuh iba. Seperti ketika dia memohonku untuk melupakan apa yang pernah dilakukannya padaku. Mengiba-iba meminta maaf. Semata-mata karena dia takut sakit hatiku akan mempengaruhi nilai rapor anaknya. Ataupun ketika seminggu yang lalu dia memohonku “kebijaksanaanku” untuk menaikkan anaknya. Dia tidak tahu di mana dia akan menaruh mukanya jika anaknya lagi-lagi tidak naik kelas. Berkas-berkasnya masih kutahan. Biar kunikmati dulu penderitaannya ini. Nikmat, sungguh nikmat! “Seperti yang Ibu ketahui sebelumnya, sekolah kita memang berbeda dengan sekolah yang lain, Bu. Berbeda dari sekolah Ardi sebelumnya. Dari segi metode maupun substansi pembelajarannya. Tapi tetap saja kita mengacu pada peraturan dinas pendidikan, karena kita pakai kurikulum nasional, Bu. Mungkin Ibu juga sudah tahu. Sebagai syarat kenaikan kelas, rata-rata nilai rapor siswa semester satu dan dua tidak boleh lebih dari,” sengaja kuberi penekanan, “empat mata pelajaran yang di bawah KKM…” Akhir kalimatku kembali menggantung.
Manusia di hadapanku ini semakin terlihat mengenaskan. Butir-butir keringat meluncur di dahinya. Sebagian sudah sampai di pipinya. Ada kemungkinan dia sudah akan pingsan dulu sebelum aku menyelesaikan penjelasanku ini. Bahagianya, siang ini aku merasa menjadi Tuhan. Kubuka rapor Ardi. Kuhadapkan ke arahnya. “Semester ini Bu, nilai Ardi kurang memuaskan. Seperti yang Ibu lihat di sini.” Kutunjuk dengan jariku. “Agama, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, dan SBK ada di bawah KKM. Jadi ada lima mata pelajaran yang ada di bawah KKM ….” Tangannya sampai gemetar menerima buku rapor ini. “Tidak naik, Bu? Benar-benar tidak bisa ditolong?” Kalau teringat bagaimana dia mengangkat dagunya, ekspresinya kali ini tampak begitu menggelikan.
Kubuka halaman sebelumnya, rapor semester satu. “Semester satu juga ada lima mata pelajaran yang di bawah KKM. PKn, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, dan SBK ….” Sengaja aku berhenti untuk memandang wajahnya. Aih, aih. Seperti habis kecopetan uang semilyar! Dia membolak-balik halaman rapor anaknya. “Lima mata pelajaran, ya?” Suaranya tersendat di kerongkongan. Aku tersenyum. Lebar. Kini tidak kututup-tutupi. “Lima, Bu ….” Matanya nanar menatap angka-angka itu. Senyumku semakin lebar. “Ibu, tapi setelah dirata-rata, ternyata hanya empat mata pelajaran saja yang di bawah KKM. Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, dan SBK ….” Dia melongo, tak menyangka. “Ja … jadi … Bu?” Kini aku ingin tertawa. “Masih naik, Bu. Walau mepet ….”
Seketika wajahnya menjadi bercahaya. Berbinar-binar, seperti seribu kunang-kunang beterbangan mengitarinya. “Syukurlah!” Dia tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. “Syukurlah!” Dia mendekap rapor anaknya dalam dadanya yang terlalu penuh itu. “Syukurlah!” Aku manusia biasa, aku menyimpan dendam. Aku pun pantas membencinya, karena aku punya harga diri. Tapi aku juga masih punya nurani. Tidak mungkin aku mengubah angka-angka itu. Walaupun hal itu sebenarnya sangat mudah bagiku. Tidak akan ada seorang pun yang bertanya mengapa anak itu tinggal kelas. Dunia akan memakluminya. Sudahlah. Aku sudah sangat puas melihat perempuan berpantat dan berdada terlalu bulat yang angkuh itu hampir mati ketakutan. Itu saja cukup. Dendamku sudah terbalaskan.
RESENSI NOVEL
Judul: AYAT AYAT CINTA
Penulis: Habiburrahman El Shirazy
Penerbit: Republika
Hal: ix + 418
Nama: Fitria Krisna H.
Kelas: XI-Bahasa
SINOPSIS
Penasaran sekali dengan novel ini. Apa sih isinya? Dan seperti apa? Sampai heboh dimana-mana.
Awal baca, aku sedikit menyalahkan beberapa orang yang meresensi. Masa seperti ini novel sih? Kupikir malah terlalu banyak teori. Belum lagi istilah-istilah asing yang sangat banyak. Semakin membaca, istilah asingnya semakin banyak, ada Arab, Jerman dan Inggris hi..(kalau Inggris sih, dasar sayanya yang emang minimal banget). Jadi kepikir kalau aku nulis istilah nihonggonya kebanyakan, emang bener, bakalan banyak diprotes orang.
Tapi bukan berarti tidak menarik. Kurasakan perasaan yang sulit diungkapkan, membaca di zaman seperti ini, ada orang yang haus ilmu. Mengaji pada seorang ustadz. Dengan jarak puluhan kilometer, ditempuh dalam waktu tidak sebentar. Sungguh, itu sebuah kabar yang jarang sekali kudengar. Biasanya adalah menceriterakan kisah salafushsholih saat menuntut ilmu. Tapi ini dijaman sekarang? Apalagi itu dilakukan dalam keadaan terik matahari musim panas di Mesir yang mencapai 40 derajat lebih. Subhanalloh. Eh, aku justeru nangisnya di sini. Di belakang-belakang saat adegan-adegan ‘novel’ kok malah ga keluar air matanya ya? Menurutku sih kisah percintaannya biasa-biasa saja.
Ada juga saat menceriterakan mimpi Fahri saat bertemu dengan Ibnu Mas’ud. Membuat perasaan saya ikut mengharu-biru.Tidak salah memang kalau novel ini disebut novel penggugah jiwa.Ada memang beberapa yang kulompat membacanya. Gimana ya, terlalu ilmiah yang menuntut untuk berpikir. Tidak beda dengan membaca buku fiksi, dan yang pasti karena nggak sabar dengan cerita yang dibilang orang-orang seru. Mana sih adegan empat orang wanita yang mencintai Fahri ini?
Di pertengahan lebih buku itu, aku baru merasa membaca novel. Adegan demi adegan mengalir bagus. Kisah Fahri yang ingin menikah, kemudian ada perang batin di saat-saat memutuskan untuk menikah, karena ada wanita lain.
Ada adegan-adegan sepasang pengantin baru disini. Kata pengantarnya, jadi benar-benar seperti novel asmara (ah, apakah novel asmara harus seperti itu??) Saya membayangkan bila belum nikah, baca itu rasanya mungkin risih juga...
Selanjutnya ada adegan dalam penjara Mesir saat Fahri dipenjara. Itu juga mengingatkan saat-saat para ulama dipenjara.Tak jauh dari masalah keluarga dan wanita. Poligami. Dengan siapa?? Baca aja sendiri he..Happy/sad ending yah novel ini? Akhir cerita memang syahdu, tapi rasanya bukan sad ending. Karena setelah itu rasanya Fahri bahagia bersama isterinya. Akhirnya, buku ini (bukan novel he..) bisa dibaca oleh semua orang. Bagi yang masih kurang menyukai novel, buku ini tidak melulu adegan-adegan kehidupan seperti novel-novel pada umumnya. Banyak sekali ilmu di dalamnya. Dalam dunia penulisan, seringkali dibilang kalau bisa jangan terlalu “ini ibu Budi” sekali dalam menuliskan hikmah. Namun dalam buku ini tidak hanya “ini ibu Budi..” bahkan banyak dalil-dalil didalamnya Mulai dari masalah pandangan wanita dalam Islam, pergaulan dengan non muslim dan banyak lagi. Namun saya merasakan tidak digurui. Mungkin karena dalam konteks ini malah justeru kelihatan ilmiah.
Dan bagi yang masih malas membaca buku-buku yang ilmiah, buku ini juga cocok karena dipadukan dengan kisah yang sangat menawan.
Hemmm...intinya sih, saya puas baca buku ini. Bagus.
Silakan postingkan kreativitas Anda pada romliombi.kreativ-art@bloger.com
Nama: Marya tripena P.S.
Kelas: XI-Bahasa
Sastra Indonesia
TRAGEDI AJAIB
Namaku Marya, aku sekolah di SMAN 2 Tarogong kelas XI dan merupakan siswi SMU. Tiga tahun yang lalu aku mengalami tragedi yang tak mungkin dapat aku lupakan. Tragedi atau bisa juga disebut pengalaman yang menakutkan.
Suatu pagi aku pergi ke sekolah, namun pagi ini ada yang berubah dari ibuku. Apakah yang berubah? Ibuku memotong uang jajanku. Jelas aku kecewa dan aku marah pada ibuku karena siapapun pasti tidak suka apabila uang jajannya dipotong. Tapi aku tetap pergi ke sekolah dengan hati kesal dan tak rela dan aku harus tetap menjalani hariku. Setelah lama menunggu beberapa jam yang seperti satu bulan akhirnya bel pulang pun berbunyi. “Kring… kring…!!!”. Yes!!! Kata itu yang terucap dari mulutku yang membuat semua mahluk yang ada di dalam kelas terkejut dan memalingkan mata mereka kearahku. Tanpa kupedulikan mereka aku melesat pergi dari kelas dan keluar dari halaman sekolah.
Sesampainya di rumah, baru selangkahkakiku berjalan telah kutemui sosok ibuku sedang memasak. Tak ku sapa karena aku masih merasa kesal pada ibuku. Sampai saat ibu menyuruhku untuk makan siang pun aku tak mau karena merasa gengsi walaupun cacing-cacing di dalam perutku sedang konser besar-besaran. Tak lama ku diam di kamar kudengar ibuku hendak pergi ke rumah temannya. “Aha…!!! Ini kesempatan untuk mengobati cacing-cacing dalam perutku ini” (pikirku dalam hati) karena ibuku tak ada di rumah aku pakai kesempatan ini untuk menyantap masakan ibuku yang tak ada tandinganya.
Setelah perutku kenyang aku melihat jam sudah menunjuk pukul 2 siang, satu jam lagi aku ada jadwal les B.inggris di rumah guruku. Aku pun bergegas ke kamar mandi , selesai mandi aku beranjak pergi ke tempat les dengan memakai angkutan umum karena aku sudah hamper terlambat. Aku berjalan menyusuri perjalanan dan sesampainya di tempat les aku terkejut karena tak seorang pun yang kutemui di sana, akhirnya aku putuskan untuk menunggu temanku sampai mereka datang. Tak lama kemudian akhirnya teman-temanku yang aku tunggu bermunculan satu persatu. Dengan enjoy aku mengikuti les, saking enjoynya tak kusadari jam sudah menunjukkan pukul 17.30, karena waktu les habis aku segera pulang.
Namun sebelum aku pulang aku mengantar temanku ke Masjid Agung untuk melaksanakan sholat terlebih dahulu, karena tak ada teman pulang aku putuskan untuk menunggu temanku tapi aku hanya menunggu di luar Masjid. Karena cukup lama aku menunggu, aku kebelet pipis dank arena aku tak tahan aku putuskan untuk pipis di WC Masjid Agung. Setelah selesai saat aku hendak keluar dari WC, tiba-tiba aku terpeleset dan jempol kakiku berdarah karena terkena keramik yang pecah. Sesaat aku mengalami kejadian itu aku tidak merasakan apapun, namun beberapa saat kemudian aku merasakan perih yang tak tertahan karena kakuku mengeluarkan banyak darah. Saat aku keluar dari WC ternyata temanku telah selesai melaksanakan sholat karena mereka terkejut melihat kakiku yang penuh dengan darah mereka panic dan membeli Tissue untuk membalut lukaku walaupun tidak mampu menahan darah dan darah terus saja mengalir.
Aku pulang dengan menggunakan angkutan umum lagi, dengan tetatih-tatih aku berjalan dan setelah sampai di rumah yang pertama kali aku temui adalah saudara perempuanku yang kebetulan sedang berkunjung ke rumahku. Dia menyuruhku mencuci lukaku agar tidak infeksi. Tak berapa lama lukaku berubah menjadi warna hitam dan ternyata darah dalam kakiku membeku dan apabila tidak di keluarkan ada kemungkinan akan infeksi. Karena aku takut aku menolak untuk mengeluarkan darah itu. Karena aku menolak solusinya ibuku membalut kakiku yang luka. Aku melihat ibuku begitu mengasihiku dan mengobatiku dengan sabar dan penuh kasih sayang, aku serasa ingin menangis melihat beliau saat itu. Padahal aku sudah melakukan hal yang sangat bodoh marah kepada ibuku. Sejenak dalam hatiku aku berkata “mungkin ini merupakan ganjaran bagiku yang telah berbuat salah kepada ibuku”. Secara spontan aku langsung meminta maaf dan memeluk ibuku. Beliau menasehatiku agar tidak mengulangi perbuatanku yang seperti anak kecil itu. Dari pengalaman ini aku belajar untuk bisa lebih hormat kepada orang tuaku. Karena bagaimanapun kasih orang tua kita tidak akan pernah putus sampai kapanpun. Hanya doa orang tua lah yang bisa membuat kita maju dan berhasil.
Selamat datang di Kreativ-Art. Blog ini adalah tempat belajar berkreasi sastra bagi para siswa SMAN 6 garut. Anda boleh menyalin materi yang tersedia dengan mencantumkan alamat blog ini. Salam, Ombi