Sabtu, April 24, 2010

TUGAS CERPEN

                                 JUBAH         
Karya: Hesti Dwi Savitri

            Di sekolahku ada seorang murid baru dari Jawa. Kedatangannya yang tiba-tiba ditengah semester dan penampilannya amat luarbiasa berbeda menggegerkan seisi sekolah.
            Suatu hri Pak Aslan membawa seorang siswi pindahan ke kelas kami. Semua orang menahan napas ketika melihat kerudung panjangnya melambai bagai jubah. Tubuhnya tebungkus seragam yang longgar. Tangannya disembunyikan di balik kerudungnya dengan tertib, dan roknya yang sarat akan rempel menjuntai sampai ke ujung sepatu. Gadis itu benar-benar bagai kepompong. Sungguh, baru kali ini aku melihat seorang muslimah seperti itu, setidaknya tidak di sekolah kami. Tak ada seorang muslimah seperti itu. Bahkan anggota rohis sekalipun terlihat lebih manusiawi dan modis dari pada dia, terlebih dengan kerdung panjang yang lebar yang tampak berat membatasi gerakannya. Kemudian gadis itu memperkenalkan dirinya.
“Assalamualaikum. Nama saya Siti Humairah. Salam kenal.”
Sejenak aku tertegun ditengah riuh rendah suara teman-teman sekelasku. Setelah beberapa saat diliputi keterkejutan, akhirnya monyet-monyet itu mulai berani menunjukan sifat aslinya dan menggoda gadis itu. Tapi tidak untukku. Suara gadis itu telah memberiku kejutan lain. Suaranya terlalu jernih dan tegas untuk seorang gadis dengan jubah ekstra seperti itu, apalagi perkenalannya tadi terlalu singkat tanpa embel-embel keramahtamahan.
Aku heran, bukankah biasanya seorang muslimah itu selalu bersikap ramah dan bersahabat pada semua orang. Tapi gadis itu, Siti Humairah, tak pernah sekalipun tersenyum dan memandang ke arah kami. Suaranya yang dalam seolah bercerita bahwa ia takkan pernah mengajak kami mengikuti jejaknya. Ia bahkan tidak peduli kami ada atau tidak. Dia telah menutup dirinya dari siapapun.
***
Siti Humairah, gadis berkerudung panjang itu sudah satu bulan menjadi warga baru di sekolahku. Sejak awal kepindahannya ke sekolah, dia selalu menarik perhatianku dan semua orang di sekolah. Bukan hanya karena penampilannya yang terlalu jilbaber di tengah masyarakat kelas kami yang heterogen, tapi juga pemikiran-pemikiran dan cara pandangnya membuat kami semua tercengang.
Sebenarnya Siti Humairah adalah orang yang pendiam dan penyendiri. Benar perkiraanku ketika aku pertamakali melihatnya kalau dia akan menutup dirinya dari kami semua. Dia tak pernah mau bergaul, bicara pun sangat jarang. Bahkan yang paling membuatku bingung, gadis itu tak pernah tersenyum, padahal biasanya seorang muslimah selalu ramah pada semua orang. Karena itulah sampai sekarang dia tak pernah punya teman. Teman baginya hanyalah kebisuan dan mesjid, serta mushaf kecil yang selalu dipekurinya setiap ada jam kosong.
Tapi semua kebungkamannya itu berubah menjadi seruan tajam dan menggebu-gebu ketika ia mengungkapkan pemikirannya di depan kelas. Diskusi kelas menjadi ajang baginya untuk bersuara. Tak ada seorang pun yang berani bergerak ketika dengan beraninya ia mengutuk orang-orang barat yang telah menyebabkan Perang Dunia I dan II. Dia menyebut mereka sebagai orang-orang idiot berhati batu, memecah belah negara, membunuh jutaan orang, dan menghancurkan diri mereka sendiri. Humairah juga tak sungkan-sungkan menyebut globalisasi sebagai era kemunduran yang terjahiliyah.
“Pergaulan bebas, pelacuran tingkat atas, korupsi, pembunuhan, dan semua yang kalian anggap sebagai kemajuan hanya omong kosong belaka! Apa bedanya dengan jaman dulu? Ketika peradaban manusia hanya sebatas berburu dan meramu, tanpa mengerti moral dan nilai-nilai yang murni? Mungkin hanya caranya saja yang sedikit berbeda, lebih modern, lebih wah, dan lebih licik!”
Dan berpuluh-puluh ketidak adilan dan penyimpangan meluncur mulus dari mulutnya dengan tajam dan menegangkan. Jelas dia tak pernah menyukai semua yang kami anggap sebagai kemajuan terhebat sepanjang masa. Dia membenci setiap detik perubahan yang justru membuat ciri-ciri kiamat semakin jelas terlihat.
Setelah ketegangan itu, dua jam setelahnya semua orang menertawakannya. Meskipun sempat terbersit pembenaran dalam hati mereka, namun bagi orang-orang yang hanya satu tahun sekali mendengar ceramahan, maka hal itu mereka anggap sebagai omong kosong belaka. Ia semakin dikucilkan dan dibenci. Dan semakin Humairah dilukai, gadis itu semakin berani menentang semua. Bahkan terakhir kali dia berani mengutk sistem gereja di Inggris pada tahun 1880-an yang menganggap bahwa wanita yang meninggal ketika hamil atau melahirkan dianggap tidak suci dan pantas disejajarkan dengan pembunuh dan perampok, padahal di kelas kami ada orang yang beragama Nasrani.
***
Jubah gadis itu melambai memasuki rumah kontrakan. Dia begitu tergesa-gesa hingga tak menyadari keberadaanku dan Apeng yang diam-diam mengikutinya.
Seminggu yang lalu dua orang teroris tertangkap di rumah kontrakannya di Sidoardjo. Tak ada seorang pun yang menyadari kalau mereka adalah teroris yang mengebom hotel mewah di Jakarta satu bulan yang lalu.
“Habis orangnya tertutup sih. Tapi dia juga baik, bahkan suka ngajar anak-anak ngaji. Jadi mana saya tahu kalu ternyata dia teroris.” Kata salah seorang tetangga teroris itu ketika diwawancara di TV.
Atas dasar kesaksian itulah teman-teman sekelasku mencurigai Humairah sebagai salah satu teroris lainnya. Aku tahu saat ini semua orang sedang resah karena takut diantara mereka ada teroris yang sedang bersembunyi, apalagi katanya masih ada teroris yang belum ditangkap. Tapi mencurigai Humairah sebagai teroris adalah hal terkonyol yang pernah kudengar. Humairah memang tertutup dan misterius, tapi aku yakin dia bukan teroris. Namun sialnya, tak ada yang mau mendengarkanku. Mereka malah menugasiku untuk mengikuti Humairah kemana pun dia pergi.
“Wah, men, rumah kontrakan!” Seru Apeng.
“Kata siapa rumahsakit!” Jawabku ketus. Aku benar-benar tidak menyukai hal ini.
“Men, men! Jangan-jangan si bau sorga itu beneran teroris lagi!” Bisik Apeng sambil memandang ngeri rumah kontrakan kecil yang berada beberapa meter dari tempat pengintaian kami di balik pohon nangka. “Di dalam tu kontrakan pasti ada terori lainnya yang lagi ngerakit bom gede buat ngebom kota kita!”
“Ah…parno lo! Gak ada, gak ada…..! Di rumah itu gak ada terorisnya kok. Cuma ada ibu sama bapaknya doang!” Sahutku cepat. Gila! Sarang teroris ada di lingkungan ramai kayak gini?! Huh, orang bodoh mana yang mau bunuh diri disini! Dasar Apeng bloon!  Gerutuku dalam hati.
“Tahu dari mana lo?”
Pertanyaan Apeng langsung membuatku salting. Aku tidak bisa mengatakan padanya kalau sudah sebulan ini aku mengikutinya dan mencari tahu tentang dirinya dari anak pemilik kosan yang merupakan temanku. Toh selama penyelidikanku, tak ada yang aneh tentang gadis itu. Dia tinggal bersama kedua orangtuanya. Ayahnya tukang bengkel di pasar dan ibunya adalah seorang ibu rumahtangga biasa. Aku memang sempat curiga kalau dia adalah salah satu jemaat aliran sesat yang sekarang banyak beredar. Tapi nyatanya semua itu hanyalah kecurigaanku saja.
“Men, jangan bilang kalau lo suka sama tu ustadzah dan lebih dulu nyelidikin dia dari pada gue?” Seru Apeng dengan senyum menyeringai.
“Sinting lo!” Umpatku sambil menjitak kepalanya yang plontos. “Kalau pun gue nyelidikan dia, bukan berarti gue suka! Gue tahu kalau Humairah bakal jadi masalah buat kita, karena itu gue nyari tahu soal dia. Tapi sejauh penemuan gue nih, gak ada tuh yang aneh sama dia. Dia dan keluarganya juga kenal sama orang-orang di lingkungan sini. Jadi gue rasa cewek itu bersih, bukan teroris!”
“Nah, itu dia yang mereka mau! Lo udah dibohongin, men, lo udah ditipu! Mereka sengaja berbaur biar gak ketahuan siapa mereka sebenernya. Lo kan pinter, men, jadi lo pasti tahu dong kalau semakin lo kelihatan biasa lo semakin gak bakal dicurigai, dan semakin lo kelihatan mencolok, lo akan semakin dicurigai!” Kata Apeng, membuatku tercengang dengan semua kecurigaan yang membuat otaknya mendadak pintar. Apa yang dikatakannya memang masuk akal, tapi tak ada bukti nyata yang menunjukan kalau Humairah memang teroris, atau…setidaknya itulah yang mereka pikirkan tentang Humairah.
“Wah, siapa lagi tuh?” Tanya Apeng dengan penuh curiga.
Aku melihat ke arah yang ditunjukan Apeng. Seorang pria berjubah dengan jenggot panjang keluar dengan tergesa-gesa dari rumah kontrakan Humairah sambil membawa sebuah tas hitam yang besar. Tak berapa lama sebuah mobil jip berhenti tepat di depan pria misterius itu, kemudian pria itu pun menghilang bersama debu yang ditinggalkan mobil itu.
Aku dan Apeng tertegun menatap kepergiannya. Ada banyak hal yang berkecamuk dalam pikiran kami. Dan Apeng lah yang lebih dulu mengatakannya.
“Kita susul mereka?” Tanya Apeng setengah menyarankan.
Aku menggelengkan kepala.”Gak, gak usah, kita pulang aja.” Jawabku cepat sambil menghidupkan motorku. Hatiku langsung tidak enak. Tanganku gemetar memikirkan apa yang baru saja kulihat. Orang itu, pria itu, mirip sekali dengan salah satu teroris yang ditangkap seminggu yang lalu, hanya saja pria misterius yang kulihat brausan tampak lebih tua dan kurus. Tapi aku yakin raut wajah mereka tak jauh berbeda, seperti pinang dibelah dua.
Aku pun segera melarikan motorku kencang di jalanan, berusaha menghapus bayangan pria berjubah dan kecurigaanku kepada Humairah yang tiba-tiba saja muncul dalam benakku. Humairah, teroris?
***
Humairah disidang hari ini oleh teman-teman sekelasku. Atas laporan yang disampaikan Apeng, mereka semua sepakat mengintrogasi gadis itu. ketika Humairah mendengar alasan pemanggilannya, dia nyaris tergelak saking konyolnya. Namun aku bisa melihat tangannya gemetar dibalik jubah putihnya.
“Ayo mengaku saja! Barangkali saja dengan begitu hukumanmu akan lebih ringan.” Seru seseorang di bangku belakang.
“Mengaku apa? Apa yang harus kuakui? Lagi pula kalian bukan Tuhan yang berhak menghakimi siapa pun!” Sahut Humairah dengan tegas.
“Jangan bawa-bawa Tuhan untuk menutupi niat jahatmu! Dasar munafik! Kau bersikap seolah dirimulah orang yang paling suci, paling tidak bisa disentuh, bahkan disapa sekalipun. Tapi nyatanya kau lebih busuk! Setelah memecahbelah kami dengan semua argumen hebohmu, sekarang kau malah bersekongkol dengan teroris!” Cerca Dio.
Wajah Huamirah langsung merah padam. Matanya berkilat menahan amarah. Seketika tembok ketenangan yang selama ini ia bangun dengan kokoh seolah runtuh oleh emosi yang jarang diperlihatkannya.
“Aku bukan teroris!Bukan!” Seru Humairah nyaris berteriak yang membuat kami semua sejenak tercengang. “Apa dasar kalian menuduhku sebagai teroris? Apakah karena aku memakai burqa? Atau karena membenci orang-orang barat itu? Hei, teman-temanku yang baik, tidak semua yang memakai kerudung panjang itu punya niat jahat, dan tidak semua orang yang membenci Amerika itu teroris! Sejak kapan kalian mulai berpikiran bodoh seperti itu? Kalian juga adalah orang Islam, tapi mengapa kalian malah mencurigai saudara sendiri sebagai teroris? Rasul mengajarkan umat-umatnya untuk tidak menyakiti siapa pun, bahkan orang non-muslim sekalipun! Tapi kenapa kalian malah menyakitiku dengan menuduhku sebagai seorang teroris?”
Ada kesenduan dimata yang selalu berkilat tajam itu. Humairah benar-benar terluka dengan tuduhan itu. Aku mengerti, tapi sialnya aku tak bisa membelanya setelah penguntitan yang kulakukan selama ini.
“Alah….bullshit! buktinya kemarin Apeng dan Donny ngeliat teroris keluar dari rumah lo!” Kata Tito.
Humairah berbalik menatapku tidak percaya, seolah matanya berkata ‘jadi selama ini kalian memata-mataiku?!’. Aku tak sanggup menatapnya.
“Teroris apa?” Tanyanya dingin tanpa mengalihkan pandangannya dariku.
“Itu, cowok brewok yang keluar dari rumah lo sambil bawa tas gede dan naik mobil jip! Dia pasti teroris. Dan barang yang dibawanya itu pasti bom!” Jawab Apeng cepat.
Tiba-tiba untuk pertama kalinya kulihat Humairah tersenyum, senyuman sinis yang seolah menerorku ‘dasar bodoh!’.
“Apa orang itu memakai jubah dan sorban?” Humairah malah balik bertanya. Kini nada suaranya terdengan lebih tenang meski kesinisan itu semakin pekat terasa.
Aku dan Apeng mengangguk bingung.
“Apa kau sudah mau mengakui kesalahanmu?” Sindir Febi.
“Kesalahan?” Humairah membulatkan matanya. Sejenak ketenangan yang menghinggapi wajahnya berganti dengan amarah. “Apakah menjadi tukang bengkel itu adalah sebuah kesalahan? Berjenggot dan berjubah itu adalah salah? Ayahku bukan teroris! Dia seorang pejuang, pejuang keluarga yang mati-matian mencari nafkah untuk memerangi kelaparan! Apakah yang seperti itu juga kalian anggap sebagai teroris?” Seru Humairah, namun kemudian suaranya kembali melembut.”Aku tahu aku berbeda dengan kalian, kerudung panjangku, dan pemikiranku mungkin tak bisa kalian terima, tapi aku selalu berusaha untuk tidak menyakiti kalian….”
“Dengan cara menjauhi kami semua?” Tanyaku.
“Ya…mungkin.  Tapi mengapa kalian malah menerorku dengan tuduhan seperti itu?!....”
“Meneror?” Seru Krista tak terima.
“Ya! Kalian selalu menerorku dengan tatapan benci kalian! Kalian membenci kerudungku, kalian membenci caraku beribadah, kalian membenci komunikasiku dengan Tuhan! Kalian….” 
Humairah tak melanjutkan kata-katanya. Matanya lebih dulu mengungkapkan semua amarahnya. Kami semua tercengang melihatnya. Sungguh aku tak bisa menatap mata itu, mata yang dulu begitu tegar namun kini begitu terluka. Kami telah melukainya dengan semua kecurigaan kami. Dan aku telah melukainya dengan kebisuanku yang tak mampu membelanya meski aku tahu bahwa hal itu tidaklah benar.
Sidang pun berakhir dengan kemenangan Humairah yang tak terucap. Sekarang aku tahu bahwa teroris tidak selalu menggunakan bom sebagai senjatanya, tapi lidah, mata, dan semua tuduhan yang tak beralasan bisa menjadi bom terdahsyat yang dapat meluluh-lantahkan hati seseorang, membuat ia menderita, dan terluka, seperti Humairah…
Maaf, Humairah….kau bukan teroris…tapi kini kau telah meneror kami dengan rasa bersalah….
Garut, April ‘10

TUGAS SASTRA

 Nama : Rosni Mentari
Kelas : XII Bahasa

Puisi (4)

Sahabat

Sahabat tak obahnya atmosfher
Yang melindungi semua makhluk di bumi
Dengan merdam sebuah energi besar
Menjadi sumber dari segala kehidupan

Dia bukanlah bagian asli dari fisik

Seperti atmosfher yang hanya berada di sekitar
Membantu kita dari semua masalah
Dengan merubah setiap beban berat di sepanjang jalan
Menjadi sejumlah butiran batu-batu kecil
Yang nantinya akan dimainkan bersama

Satu hal yang perlu kau ingat sahabatku
Jika kau sahabatku
Maka aku adalah sahabatmu

Jangan sungkan
Jangan segan...
Ucapkan, dan ungkapkan
Semuanya...

Kita tak penah tahu
sampai kapan atmosfher bertahan
bahkan oleh karena ulah bumi
di sepanjang perputarannya

tapi bumi tetap butuh itu,
untuk itulah manusia melakukan “go green”
dan untuk itulah aku sampaikan ”ma’af”
sekiranya kau terluka olehku

dunia ini luas
hingga langit ke tujuh
dan di tiap-tiap langit itu
kau akan temukan atmosfher yang lain
yang mungkin lebih baik dari yang ini 





Seseorang yang mencintai kamu...
Tidak bisa memberikan alasan mengapa ia mencintaimu...
Dia hanya tau, dimata dia,kamulah satu satunya...
Seseorang yang mencintai kamu...
Sebenarnya selalu membuatmu marah /gila/jengkel / stres...
Tapi ia tidak pernah tau hal bodoh apa yg sudah ia lakukan...
Karna semua yang ia lakukan adalah untuk kebaikanmu
Seseorang yang mencintai kamu...
Jarang memujimu, tetapi di dalam hatinya kamu adalah yg terbaik...
Hanya ia yang tau...
Seseorang yang mencintai kamu...
Akan marah-marah atau mengeluh jika...
Kamu tidak membalas pesannya atau telpnya...
Karna ia peduli dan ia tidak ingin sesuatu terjadi ke kamu...
Seseorang yang mencintai kamu...
Hanya menjatuhkan airmatanya dihadapanmu...
Ketika kamu mencoba untuk menghapus airmatanya...
Kamu telah menyentuh hatinya...
Dimana hatinya selalu berdegup / berdenyut /bergetar untuk kamu...
Seseorang yang mencintai kamu...
Akan mengingat setiap kata yg kamu ucapkan...
Bahkan yang tidak 


Yang Kukenang

Pagi menyambutku
dengan senyummnya
yang selembut senyummu

Fajar menyapaku
dengan sapaannya
yang semanis sapaanmu

Bulan melihatku
dengan tatapannya
yang seindah tatapanmu

Namun,
senyummu, sapaanmu, tatapanmu
meninggalkanku perlahan

Saat kusadari,
semua itu hanya kenangan
yang kukenang darimu.

 


Arti Cinta

Disaat cinta datang.. hati ini kan merasa gelisah..
banyak mimpi yang tercipta..
angan pun melayang.. hayalkan sebuah kisah..
kisah-kisah yang terindah..

dan bila cinta tlah bertepi,, di pelabuhan dambaan hati..
tuada lagi rasa gelisah
kini yang ada hanya masa-masa indah
tiada lagi angan dan hayalan,, karna mimpi tlah jadi nyata..

hari-hari terasa indah,, mentari selalu bersinar cerah..
awan mendung se’akan sirna
tiada lagi malam sepi,, karna bintang hiasi hati
karna bulan temani indahnya malam

tiada lagi tangis sedih,, karna cinta tlah terbalas
merubah segalanya jadi lebih indah..

TUGAS PUISI


Derit Pedang yang Berderai-derai
Karya: Hesti Dwi Savitri
            
Tajam……..
Lebih tajam dari pedang
Menyilet-nyilet lidahku kelu
Getir……….
Tawa dan senyum kaku
Maaf………
Maaf menjadi tumpul dan tabu
Ah………
Maaf……
Tapi aku terbelenggu
Diikat oleh duri berkawat
Tak dapat bergerak
Tak boleh berteriak

Duh Gusti……
Apa salahku………
Ya, kau punya salah!
Tapi dalam silet kau tak salah
Salah dan salah menjadi batu

Ah…..sekali lagi maaf….
Alangkah sejuk dan mahal maaf itu
Maaf……
Kau tergelak lagi
Ah….maaf
Bukan maksudku
Aku tak mau menjadi pisau berduri untukmu…

Maaf….
Tapi…..       ah…….
Aku tak tahu………….

Jumat, April 23, 2010

tugas sastra indonesia

Tugas Sastra Indonesia
“ puisi “
Nama : Fitria Krisna Handayani
Kelas : XII_Bahasa


“ Gelap “

Betapa hancur hati ku
Kau siksa aku
Betapa sakit hati ku
Kau buang aku

Ku pandang langit yang hitam
Saat ku tunggu malam
Kau pun tak pernah datang
Dan kau buat gelap warna pelangi

Lalu kau datang lagi membuat luka ini
Kau jangan mencoba untuk di sini
Kau jangan mencoba untuk kembali
Bila kau di sini biar ku yang pergi




Tugas Sastra Indonesia
“ puisi “
Nama : Fitria Krisna Handayani
Kelas : XII_Bahasa


“ Dengan mu “

Tak pernah terbayangkan
Bila harus berjalan tanpa diri mu
Tak pernah terpikirkan
Bila aku bernapas tanpa napas mu

Takdir sudah mempertemukan kita
Tuk berdua dan saling menjaga
Dan tak mau aku melewati
Semua ini tanpa mu

Kau hangatkan genggaman tangan ku
Dan berkata akulah milik mu
Dan tak mau aku menjalani
Dunia ini tanpa mu



Tugas Sastra Indonesia
“ Membuat Cerpen “
Nama : Fitria Krisna Handayani
Kelas : XII_Bahasa


“ Anak Turunan Teroris “
     Kabut tebal masih menyelimuti suasana pagi,bukit-bukit di pinggiran desa nampak seperti langit yang jatuh dengan gumpalan awan tebal di sekitarnya hawa dingin tidak bisa di cegah masuk ke dalam rumah melewati lubang angin yang sempit.suasana hening,sunyi,sepi,senyap menyelimuti jangkrik-jangkrik yang semalam bernyanyi sudah tidak terdengar lagi suaranya, sementara burung-burung yang biasa bercanda gurau di pagi hari pun belum menampakan diri, diluar rumah juga tidak terdengar suara manusia yang biasanya sudah sibuk di pagi hari.

     Nurjanah mencoba memejamkan mata kembali dengan mukena yang masih menutupi lekuk tubuhnya berbaring di sajadah yang terhampar di lantai kamar, matanya memang tertutup namun jiwanya berkelana tak terbatas ruang dan waktu. mencoba kembali menjelajahi kisah hidupnya yang masih sepenggalan waktu di dunia. hidup yang hanya sebentar namun telah di isi dengan segala macam kepedihan dan luka yang akan terus mengganggu sepanjang masa. ”mengapa semua ini harus terjadi ?” hanya itulah pertanyaan yang selalu menghantui. belum lama dia memenuhi kewajiban sebagai seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya dengan merelakan diri di jodohkan dengan seorang laki-laki yang sama sekali tidak di kenal,seorang lelaki yang berbadan tegap raut wajah memang teduh dengan senyuman manis selalu menghias, tingkat kesopanan yang di tunjukan di atas rata-rata, perempuan mana yang tidak akan jatuh hati memandangnya? sungguh keberuntungan yang datang tanpa dia impikan sebelumnya saat sang ayah mengenalkan sosok laki-laki itu sebagai calon suaminya, tapi tidak banyak orang yang bisa dia ajak berbagi rasa dengn semua kegembiraan itu, kehidupanya selama ini mengharuskan dia terjebak dalam lingkungan aturan agama dan ketegasan ayahnya sebagai seorang ulama, tidak ada yang di sesali sejauh itu sebelum cerita berganti dengan kenyataan pahit yang harus di telan mentah-mentah.


     Nurjanah menghela nafas panjang, matanya rapat terpejam mencoba menerima segala kenyataan hidupnya. Sebelum menikah sudah sejak lama dia tahu banyak lelaki yang menaruh hati bahkan tak segan-segan mencoba mengungkapkannya langsung meski harus mencuri-curi pandang saat ayahnya tidak memperhatikan. Sebenarnya dia heran juga, apa sebenarnya yang lelaki kagumi dari dirinya? Sepanjang hari tubuhnya selelu ditutupi dengan busana yang menutup dari atas ke bawah, hanya matanya saja kadang yang terlihat bahkan seringkali harus ditutupi dengan kacamata hitam bila harus keluar rumah ditengah terik mentari. Sehingga akhirnya dia mengambil kesimpulan banyak lelaki yang tertarik dengannya karena sosok sang ayah merupakan ulama terkenal dan disegani didaerah setempat. Kesimpulan yang menjauhkan diri dari rasa riya dan kesombongan terhadap penilaian diri yang berlebih.


     Mentari masih saja sembunyi di balik kabut, atau sebenarnya kabut tidak rela bila mentari menerangi bumi? Entahlah, kebingungan yang mungkin sama dengan yang dirasakan nurjanah saat ini. Matanya terbuka mencoba mengikuti gerak tangannya yang meraba-raba perutnya yang membuncit. Usia kandungannya baru beberapa bulan, rasa mual masih sering timbul dengan permintaan masa ngidam yang aneh-aneh. Sekarang ini jangankan memenuhi segala keinginannya, mencoba bertanya pun malah tidak ada seorang pun yang berani melakukannya. Kini hidupnya semakin terasing diantara riuh rendah suara-suara manusia yang nyaring terdengar. Dulu dalam keterasingannya dia menerima dengan ikhlas sebagai bukti bakti dan patuh menjalankan perintah agama, orang-orang diluar pun tidak ada yang berkomentar buruk bahkan mereka merasa ikut bangga dan salut dengan hidupnya yang agamis.


     “ Nur…,” Tiba-tiba tersdengar suara lirih ibunya dari depan pintu kamar diselingi ketukan-ketukan ringan di daun pintu.


     “ Nurr, banguuun. Pak polisi minta kita segera bersiap, kita berangakat sebentar lagi”


     Suara ibunya kemudian hilang, apa yang kemudian terjadi tidak diperhatikannya lagi. Mata nurjanah kembali terpejam dengan linangan air mata yang membasahi pipi. Amar, lelaki yang di jodohkan ayahnya menjadi suaminya ternyata adalah tersangka peledakan bom. Teroris yang sudah sejak lama diburu aparat kepolisian. Tidak ada yang mengira bahkan dirinya sendiri pun tidak pernah menyangka, suaminya akan bernasib tragis, tewas berlumuran darah dengan lobang peluru menembus tubuhnya disana- sini. Kondisi manusia yang berlumuran darah seperti itu pernah dia lihat di berita televisi saat korban bom di sebuah hotel sedang dievakuasi. Kini dia harus melkihat langsung bahkan manusia itu adalah Amar, suaminya, Inikah buah dari perbuatan suaminya? Tidak ada seorang pun yang berani menjawabnya Sambil meraba perutnya yang buncit, Nurjanah semakin menangis tersedu.
     “ Bagaimana anakku nanti bila memngetahui bapaknya seorang teroris?”














Selasa, Maret 30, 2010

Tugas Puisi


De Javu
Karya : Siti Rohmah Maryani
D’Javu
aku tak terlalu memikirkannya
akan tetapi aku sering mengalaminya
apa yang harus aku lakukan untuk menghindari keadaan yang seperti itu?
Aku bingung
aku harus bagaimana?
aku tidak mau disebut gila karenanya
Maka apa yang harus kulakukan?
apakah aku harus tidak mengacuhkannya?
atau
aku harus terus terperangkap dalam pemikiran-pemikiran yang menyakiti hati itu?
Aku takut
aku ingin berlari dan berteriak dengan sekencang-kencangnya
bahwa aku bukan orang gila…

Hilang
Karya : Siti Rohmah Maryani
Malam ini aku termenung sendiri dalam kegelapan malam
tak ada nyanyian merdu yang menarik hati
semuanya sepi
sepi sekali
apakah ini?
Aku tak mengerti
semua begitu cepat pergi dari hadapanku
seakan ingin pergi jauh dan tak akan berjumpa kembali
Aku sendiri
berdiri di tempat yang berhawa kematian
tak bernyawa
dan tak berdetak
Aku ingin sekali mengikuti semilir angin
agar aku bisa ke tempat lain yang bisa berbagi cerita
berbagi segalanya tanpa hambatan dan masalah
yang datang bertubi-tubi menimpaku
Apakah ini takdirku?
selalu sendiri menyepi
meskipun di tengah-tengah keramaian
yang ada di sekitarku
mengelilingiku sepanjang hari
dan tak akan hilang dari pandanganku
untuk kini dan untuk selamanya
Sikapku tak bisa merubah segalanya…


Keindahan yang Hanya Sebuah Kenangan
Karya : Siti Rohmah Maryani
Indah
keinginan yang begitu mengagumkan
dan akan selalu menghiasi hariku
Namun
semuanya hilang bagaikan ditelan bumi
sehingga tak tersisa sedikitpun
semuanya pergi dengan keadaanku yang sekarang
sulit melangkah meskipun hati ingin berlari
sesak di dada meskipun hati ingin berteriak
semua terasa aneh dan di luar kuasaku
kini aku terjatuh dan tak bisa terbangun lagi
seakan mati tak bernyawa
Aku ingin meraih sesuatu itu kembali dalam hidupku
tapi aku hanyalah manusia biasa
yang hanya menerima takdir yang digariskan
dan tak bisa mengubah takdirku itu
Aku tak kuasa melihat semua ini
aku ingin hidup seribu tahun lagi jika perlu
agar aku bisa meraih kebahagiaanku kembali
akan selalu kujaga dan tak akan kulepaskan
Mungkin takdirku adalah kehilangan semua yang aku miliki
dan semuanya tak akan kembali lagi
Aku terpuruk dalam kesedihan yang tiada henti
Perlahan tapi pasti
aku pergi…

 

Harapan yang Tersisa
Karya : Siti Rohmah Maryani
Malam yang indah
bulan bercahaya cerah
kuingin menggapainya
namun begitu jauh
dan tak dapat aku raih
Malam ini adalah saksi aku kembali
kembali dari kegalauan hati yang menyelimutiku
kini aku bahagia
karena aku bisa menyunggingkan senyumku lagi
menghirup udara dingin yang menusuk dada
melangkah pasti
dan kembali menata hidup yang lebih baik
sebagai wujud meraih impian
impian yang selama ini kuinginkan
Rasa ini begitu membingungkan
membuat aku bertanya-tanya akan kehidupan ini
semua begitu aneh
kadang di bawah dan kadang di atas
apakah ini yang dinamakan kehidupan yang sesungguhnya?
apakah ini kehidupan yang aku inginkan?
apakah ini hidup di dunia sebagai sosok baru,
untuk meraih berjuta impian?
Andai hidup ini seperti air yang mengalir
yang terus menerus menguap
dan kembali dalam bentuk hujan
membasahi tanah sebagai wujud dorongan untuk kembali mengalir
sehingga tidak berhenti
Aku harus berjuang…

Minggu, Juni 21, 2009

iGoogle

iGoogle

Jumat, Juni 19, 2009

tugas sastra: novi rovika

ANGIN MUSPARA
Karya: Novi Rovika Kls XI-bhs

Riuh rendah angin muspara
Se-ia dengan realita
Bertarung dengan bisingnya kehidupan
Angina muspara …

Jangan sampai terbuai olehnya!
Sekalipun karena takdir
Dengan apa kau kan melawannya?
Dengan kesabaran.

Sabar. Seperti rumput gajah yang selalu sabar,
Menari-nari kemanapun angin membelai
Semua arah mata angin …
laiknya pola irama tarian

bukan tak ingin menjadi batu karang
hanya kadang, ciut nyali
tinggalkan saja keraguan dan ketidakpercayaan itu
pilih, jadi batu atau sampah

Cerpen

AKU NGERTI
Karya: Novi Rovika

Hidup adalah permasalahan, memang begitulah hidup. Itulah yang sedang menderaku. Sedih, bingung, bahkan tak tahu apa ini. Otakku dipenuhi pikiran-pikiran yang membuat hari ini serasa gak akan pernah hidup lagi.
Tak biasanya aku merasa ada yang beda saat aku hendak pulang ke rumah. Sesampainya di depan jalan yang menghubungkan sekolah dan rumahku, langkahku terasa lebih cepat. Entah apa yang membuatku ingin segera sampai di rumah.
“ srek..srek..srek..”
Suara itu terdengar dari kamar kak Ebie, kakakku. Aku heran melihat dia memasuk-masukan pakaian ke dalam ranselnya.
“ cepat ganti baju, semuanya ikut pergi mengantar ibu! ”
Ucap kakak sembari memandangku sendu. Aku heran sebenarnya ada apa dengan ibu, tapi rasa penasaranku…
“ memangnya sakit ibu parah lagi? Terus dibawa ke dokter mana? “
Tapi kakak tak menghiraukan pertanyaanku. Entahlah aku jadi makin penasaran.
Setelah kami siap, segera kakak meluncurkan motornya. Kami berbelok arah, aku tahu ke mana kami akan pergi.
Masih tersimpan dalam ingatanku, waktu aku kecil dulu kalau ibu punya uang pasti dia mengajakku ke tempat yang ku lewati barusan sengaja untuk membeli bakso kesukaanku. Hm.. sangat menyenangkan sekali jadi anak kecil, kalau saja aku bisa meminta aku akan meminta pada Allah agar aku jadi anak kecil terus. Tapi itu permintaan yang konyol. Tiba-tiba saja aku terdorong ke depan,
“ kakak ngerem gak bilang-bilang! ”
Sungut ku sambil membetulkan posisi duduk. tapi seperti tadi, kakak hanya meresponku acuh.
Tak terasa adzan maghrib berkumandang, kalau saja kakak tahu aku sedang berpuasa karena hutangku ramadhan kemarin kakak pasti mengajakku mampir sebentar di warung untuk sekedar membatalkan puasaku. Tapi nihil, biar saja aku tahan.
“ kita langsung ke rumah sakitnya saja ya! “
Ucap kakak dengan suara parau. Aku heran, memangnya kakak kapan nangisnya. Jadi tambah bingung, memangnya kenapa ibu harus di bawa ke rumah sakit segala.
Urusan perut emang gak bisa diajak kompromi, usahaku untuk menahan bunyi demo di dalam abdomenku membikin aku tak peduli dengan pertanyaanku tadi.
Akhirnya sampai juga. Aku perhatikan kakakku saat membuka helmnya, sekedar untuk memastikan apa matanya sembab setelah tadi aku mendengar suaranya yang parau. Ternyata tidak, hanya sedikit kusut mungkin karena pakai helm yang terlalu kekecilan.akh, aku ngaco.
Kami langsung menuju kamar yang disebutkan kakak, aku jadi gak sabar ingin segera ketemu ibu. Di sepanjang koridor jalan banyak keluarga pasien yang lalu lalang, ataupun hanya sekedar duduk-duduk. Aku pikir akan sepi, pasalnya ini kan sudah waktunya shalat maghrib.
Tak lama. Saat aku mendongkakkan kepalaku ke sebuah pintu ruangan yang nomornya tidak sempat ku lihat. Tubuhku serasa mau rubuh, seketika itu juga air mataku meleleh. Rasa takut itu mulai datang, tiba-tiba ada sedikit penyesalan. Dalam hati aku bergumam..
“ kenapa aku tadi tidak cepat pulang! “,
Air mataku terus meleleh. Hampir saja aku terjatuh tapi aku harus kuat, aku tidak boleh terlihat cengeng di depan kakakku apalagi di depan ibu. Sesosok wanita yang selalu mengomeliku karena susah makan dan mengingatkanku untuk tidak lupa shalat. Kini hanya terkulai lemah di atas kasur dengan selang infuse di pergelangan tangannya.
Kakak pergi ke luar untuk shalat sembarimembeli makanan. Aku shalat di kamar tempat ibu di rawat. Tak henti-hentinya aku menangis dalam do’aku,
“ aku tak ingin ibu begini, kenapa tidak aku saja ya Allah. Aku sanggup menggantikan posisi ibujika Kau menghendaki. Aku serasa tak berguna di saat seperti ini, yang aku bisa hanya cengeng. Kalaupun Engaku menghendakinya untuk bersama-Mu sekarang, aku belum siap. Aku tak akan kuat menerimanya, aku belum siap berstatus yatim. Aku tak mau itu terjadi “.
“ Apa aku anak yang selalu ibu banggakan itu, yang tak bisa berbuat apa-apa disaat ia lemah melawan penyakit yang selama ini dideritanya. Ya.. Allah, sembuhkanlah ibu. Agar aku bias mendengar omelannya lagi, agar aku bisa melihat senyumnya lagi. Amin ya… rabbal ‘alamin…”.
Ya ampun! Ternyata dari tadi kakak melihatku, aku benar-benar kaget. Biarlah, ini kan wajar. Tapi tetap saja aku malu. Ia menyodorkan bungkusan nasi yang di belinya barusan, sembari aku makan kakak menasehatiku.
“ kakak juga tidak tahu kenapa ibu bisa drop lagi, padahal kemarin ibu terlihat seperti ada kemajuan. Kakak kira sudah mendingan. Eh… ternyata malah jadi begini. Makanya mulai sekarang kamu harus terus jagai ibu “.
“ Ibu tuh tadi sebelum dibawa ke sini bukannya mikirin penyakitnya tapi dia malah nanyain kamu. Ibu bilang kalau kamu pulang suruh jangan lupa shalat terus kalau sudah adzan maghrib langsung makan …”.
Aku nangis sesenggukan, tumpah lagi air mataku. Entah, ibu mana yang bisa menggantikan posisinya jika memang sekarang saatnya. Tidakada!. Aku hanya ingin ibu, satu ibu yang kini tengah terkulai lemah.
“ ayah dan kakak-kakak yang lain sudah pulang duluan tadi, assyah bilang kamu dulu yang jaga ibu duluan besok ayah menggantikan “.
“ …..kamu ngerti kan, betapa sayangnya ibu sama kita semua. Sama kamu. Betapa ia membutuhkan kamu disaat seperti ini. Kamu harus jagain ibu, berdo’a terus buat ibu. Ibu pasti sembuh “.
“ aku ngerti! “.

tugas sastra : fitria krisna

PUISI Sepi

Seribu cahaya berkesiur

Di sepanjang musim gugur

Merentangkan sunyi antara

Patung-patung dan air mancur

Ketika kuteriakkan sepi sahut

Sang burung pun seakan mengisak perih

Ketika ku rasa kelam siang ku pun terasa tenggelam

Bersama angin yang membelai raga

Tetes demi tetes air hujan yang berjatuhan

Seakan menjadi musik pengiring dalam kelamku

Hari ini aku berdiri gontai tak bertenaga

Harapku dalam hati semoga ada yang sudi

Memapahku berdiri tegak


TINJAUAN BUKU

Judul buku : Mengatur rencana

Pengarang : Enid Blyton diterjemahkan oleh Agus Setiaaji

Penerbit : PT. Gramedia, Jakarta

Tahun terbit : 1981

Tebal buku : 37 halaman

SINOPSIS

Pesta Malam Api adalah sebuah pesta yang diadakan oleh orang-orang Inggris untuk mengenang komplotan pengebom Guy Fawkes atau yang terkenal dengan Guy Fawkes’s Gunpowder plot. Komplotan ini adalah pelaku pemboman gedung parlemen Inggris (Houses of Perliament) pada tanggal 5 November 1605. Setiap tanggal 5 November warga Inggris mengadakan pesta malam api untuk memperingati tragedy tersebut. Pada pesta itu mereka membuat boneka laki-laki berukuran besar, didandani dengan pakaian tua menyerupai tokoh Guy Fawkes. Boneka itu didudukan di atas kursi kemudian di bakar secara beramai-ramai dalam api unggun dengan iringan letusan mercon dan kembang api. Pesta pembakaran biasanya diadakan di sebuah lapangan, di atas bukit, atau di tanah perkemahan.

Bottom of Form

CERPEN

Rapor

Diam-diam aku memerhatikannya sedari tadi. Dari tempatku duduk sebagai notulen, gerak-geriknya terbaca jelas. Sangat jelas. Bahkan orang bodoh pun tahu, dia sangat gelisah. Dia baru tiba saat pembawa acara baru saja selesai membacakan agenda pertemuan hari ini. Rambut panjangnya yang tergerai berayun-ayun mengikuti langkahnya yang tergesa. Sesaat dia berhenti di ambang aula. Matanya berkeliling mencari-cari tempat duduk yang kosong. Hanya kursi di barisan depan yang masih tersisa. Dengan enggan, tapi berusaha tetap terlihat elegan, dia pun mengambil tempat duduk di kursi pojok barisan depan. Jauh dari orang tua murid yang lain.

Sedari tadi dia tidak tenang. Seperti ada bara di bawah pantatnya yang menggunung itu. Pantat yang terlalu kencang untuk perempuan yang sudah tiga kali melahirkan. Memang sering kali kulihat mobilnya terparkir di depan fitness center di samping sekolah. Tapi aku curiga, pantat itu bukan hanya didapatnya melulu melalui latihan-latihan di fitness center itu. Entah apa yang sudah dijejalkannya di dalam sana, sehingga si pantat bisa berbentuk sedemikian rupa. Digeser-gesernya duduknya. Kadang ke kanan, kadang ke kiri, ke depan, ke belakang. Aku sempat khawatir kalau-kalau celananya yang berbahan halus dan mahal itu akan sobek karena bergesekan dengan kursi yang didudukinya. Bolak-balik diangkatnya tangannya untuk menengok jam berlapis emas putih di pergelangan tangannya itu. Padahal sudah ada jam tergantung di dinding aula. Seakan dia ingin memastikan kalau jarum jam dinding itu sudah berputar sebagaimana seharusnya.

Sesekali dihelanya nafasnya. Beban ribuan ton rupanya menimpa dadanya yang penuh (terlalu penuh juga untuk ukuran perempuan yang sudah tiga kali melahirkan?). Sebentar kaki kanannya disilangkan ke kaki kirinya. Sebentar kemudian diturunkannya. Ganti kaki kirinya yang disilangkan ke kaki kanannya. Begitu seterusnya. Kini kedua kaki langsingnya sedang mengetuk-ngetuk lantai tanpa irama. Untung saja bunyi ketukan sandalnya tertelan gemuruh suara orang-orang berbisik di aula ini. Sementara itu kepalanya terus berkeliling. Kalau tidak menunduk berlagak mencari-cari sesuatu dari dalam tas kulit merk luar negerinya. Sekilas dapat kulihat setitik keringat meluncur di dahinya yang putih mulus. Tentu saja keringat itu tak akan melunturkan riasannya. Maklum harga seperangkat make up yang dikenakannya setara dengan sebulan gajiku sebagai guru di sini.

Aku terpaksa mengangguk (sok) ramah padanya ketika tatapan kami bertemu. Sekedar untuk menyembunyikan seringai yang terlanjur muncul di ujung bibirku. Dia membalasku dengan anggukan dan senyuman teramat tipis sembari dengan angkuh mengangkat dagunya. Kini benar-benar kunampakkan seringaianku, tanpa usaha untuk menutupinya lagi. Sesaat kemudian aku berpaling, kembali berlagak serius mendengarkan paparan kepala sekolah mengenai pencapaian-pencapaian sekolah kami di tahun ajaran ini. Paparan yang terlalu panjang dan terlalu lebar. Membosankan. Kenapa tidak langsung ke menu utama saja, pengambilan rapor. Aku sudah tak sabar.

****

Tinggal kami bertiga di ruang kelas ini. Aku yang sedang melayani Bu Mira, dan dia yang duduk dengan gelisah di deretan kursi tunggu yang kosong. Perilaku gelisahnya sama persis dengan sewaktu dia ada di aula tadi: pantat digeser-geserkannya, kaki ditopangkan bergantian kalau tidak diketuk-ketukan di lantai, pandangan berkeliling atau menunduk berlagak mencari-cari sesuatu dalam tas, maupun jam tangan yang berkali-kali ditengoknya. Dagunya mendongak setiap kali mata kami bersitatap. Dasar angkuh! Aku tahu dia sedang memakiku habis-habisan dalam hatinya. Biar saja, memang kusengaja. Setelah pertemuan di aula selesai, para orang tua dipersilakan masuk ke ruang kelas anak mereka masing-masing untuk menerima pembagian rapor. Dan kira-kira sejak dua jam yang lalu dia sudah duduk di sini menunggu giliran kupanggil menghadapku untuk mendapatkan rapor anaknya.

Dari lima belas muridku, anaknya memang nomor absen terakhir. Jadi bukan salahku jika sampai saat ini dia belum juga kupanggil. Aku baru sampai nomor absent empat belas. Rachel, anak Bu Mira. Hanya saja, aku memang sengaja berlama-lama berbincang dengan setiap orang tua murid. Kujelaskan sampai sedetail-detailnya perkembangan anak mereka selama satu tahun ajaran ini. Hal yang tidak perlu kulakukan sebenarnya. Perkembangan setiap anak didik sudah tercantum dalam rapor khusus kami yang berupa laporan narasi deskriptif. Belum lagi jika kebetulan sang orang tua murid memang suka ngobrol, pembicaraan bisa melebar sampai ke mana-mana. Seperti yang sedang kulakukan dengan Bu Mira ini.

“Ibu ini bisa aja!” Bu Mira tertawa panjang. Muka putihnya bersemu merah. Bu Mira bercerita kalau Rachel baru saja menjadi juara satu lomba wajah fotogenik. Aku bilang pantas saja, karena dia mewarisi kecantikan ibunya. Gombal sekali memang, tapi yang seperti ini orang tua murid suka. Dimasukkannya rapor, laporan perkembangan, dan beberapa lembar pengumuman ke dalam tas, lalu dikeluarkannya sebuah bungkusan dari dalam tasnya.

“Rachel sendiri yang memilih, Bu. Semoga suka!” Tangannya mengangsurkan sebuah kotak kecil yang terbungkus kertas kado bergambar kartun Naruto. “Aduh, malah merepotkan!” kataku berbasa-basi, “terima kasih banyak lho, Bu!”

“Ah, biasa aja! Terima kasih banyak Bu, sudah membimbing Rachel. Maaf, sudah banyak merepotkan!”

“Tidak apa-apa, Bu, sudah menjadi tugas saya!” Jawaban ini sudah secara mekanis keluar dari mulutku setiap semesternya.

“Mari Bu, saya permisi!” Bu Mira beranjak keluar ruang kelas.

“Terima kasih, Bu. Salam buat Rachel!”

Kutumpukkan bingkisan dari Bu Mira di atas bingkisan-bingkisan orang tua murid sebelumnya. Selain bingkisan-bingkisan itu ada beberapa amplop di dalam laci mejaku. Hatiku bertanya-tanya, apa gerangan yang dibawa oleh perempuan yang kini sedang melangkah menghampiriku ini. Setelah parcel segede gunungnya yang kukembalikan seminggu yang lalu! Hari gini menyogok guru agar mau mengatrol nilai! Rupanya dia sudah merasa rapor anaknya bakalan jelek. Ardian, anaknya, memang berkebutuhan khusus. Gangguan konsentrasinya membuatnya sulit mengikuti pelajaran. Nilai-nilainya selalu di bawah teman-temannya. Tidak hanya itu, agaknya dia juga mulai sadar kalau kelakuannya padaku selama ini bisa saja membuatku mengurangi nilai-nilai anaknya.

Sebenarnya kesempatan ini sudah kutunggu-tunggu. Pembalasan dendamku untuk perempuan berpantat terlalu kencang dan berdada terlalu penuh yang angkuh ini. Di sinilah ajang pembuktianku bahwa aku bukan orang sembarangan. Bahwa aku punya kekuasaan. Kalau sebenarnya dia tidak bisa macam-macam denganku. Sebagian masa depan anaknya aku yang menentukan. “Mari, Bu, silakan duduk!” Tanpa sepatah kata dia hanya tersenyum tipis, duduk di hadapanku. Senyum bernada segan. Bukan senyum sinis seperti yang beberapa kali dilemparkannya padaku, saat dia mencercaku. Untuk penilaian-penilaiannya padaku: guru konvensional, guru pilih kasih, guru yang kurang perhatian, dan lain-lain.

Aku berlagak sibuk menyiapkan rapor, laporan perkembangan, dan beberapa lembar pengumuman yang akan kuberikan kepadanya. Sedangkan sudut mataku mencuri-curi pandang wajah cemasnya. Wajahnya yang pucat. Seperti aku ini hantu baginya. Dalam hatiku tertawa. Mati kau, kutukku. Kutumpukkan berkas-berkas yang akan kuberikan padanya di sudut meja. “Selamat pagi, Bu!” Kataku sambil menjabat tangannya yang dingin. Tangan yang pernah melemparkan kertas ulangan anaknya ke mukaku, sembari berkata kalau percuma saja bayar mahal-mahal kalau lagi-lagi dapat nilai lima puluh. Tanganku menjadi ikut basah oleh keringat di telapak tangannya. “Pagi …, pagi Bu,” jawabnya tanpa bisa mengatasi kegugupannya.

Lagi-lagi dalam hatiku tertawa. Teringat aku bagaimana dia meneleponku malam-malam, tanpa ucapan selamat malam, hanya untuk menanyakan keberadaan pensil atau penghapus anaknya yang hilang. Setengah mati aku berusaha menyembunyikan tawaku. “O ya, Bu. Mohon maaf sebelumnya. Kemarin terpaksa saya mengembalikan bingkisan Ibu. Bukannya apa-apa, Bu. Peraturan sekolah melarang guru menerima bingkisan dari orang tua murid sebelum rapor dibagikan. Saya tidak berani melanggarnya, Bu. Semoga Ibu maklum.” Padahal mana ada sekolah mengatur perihal itu. Macam pejabat saja, dilarang menerima gratifikasi. “Tidak apa-apa, Bu. Saya yang minta maaf. Saya tidak tahu ada peraturan seperti itu di sini. Di sekolah Ardian yang dulu diperbolehkan. Saya hanya bermaksud mengucapkan terima kasih saja.” Dia menelan ludah sebentar. “O ya, bagaimana Ardian, Bu Lily?” Wajahnya terlihat sangat memelas. Layaknya pengemis yang sudah tiga hari tidak makan memohon sedekah saja. Ke mana gerangan dongakan dagunya yang angkuh itu? Ho ho, betapa aku rindu!

Kuambil tumpukan berkas di sudut meja. Sengaja tidak segera kuserahkan kepadanya. “Mohon maaf, Bu. Sejak kepindahan Ardi awal semester dua ini, saya sudah berusaha sebaik mungkin membimbing Ardi ….” Kalimatku menggantung. Berkas-berkasnya masih di tanganku. Wajahnya seperti orang yang sudah mati saja. Seperti tidak ada lagi darah yang mengalir di pembuluh darahnya. Matanya berkaca-kaca. Bibirnya gemetar. “Ja … jadi … bagaimana, Bu? Bisa tidak naik ke kelas tiga?” Pertanyaannya lebih terdengar sebagai ratapan.

Tapi aku tidak juga jatuh iba. Seperti ketika dia memohonku untuk melupakan apa yang pernah dilakukannya padaku. Mengiba-iba meminta maaf. Semata-mata karena dia takut sakit hatiku akan mempengaruhi nilai rapor anaknya. Ataupun ketika seminggu yang lalu dia memohonku “kebijaksanaanku” untuk menaikkan anaknya. Dia tidak tahu di mana dia akan menaruh mukanya jika anaknya lagi-lagi tidak naik kelas. Berkas-berkasnya masih kutahan. Biar kunikmati dulu penderitaannya ini. Nikmat, sungguh nikmat! “Seperti yang Ibu ketahui sebelumnya, sekolah kita memang berbeda dengan sekolah yang lain, Bu. Berbeda dari sekolah Ardi sebelumnya. Dari segi metode maupun substansi pembelajarannya. Tapi tetap saja kita mengacu pada peraturan dinas pendidikan, karena kita pakai kurikulum nasional, Bu. Mungkin Ibu juga sudah tahu. Sebagai syarat kenaikan kelas, rata-rata nilai rapor siswa semester satu dan dua tidak boleh lebih dari,” sengaja kuberi penekanan, “empat mata pelajaran yang di bawah KKM…” Akhir kalimatku kembali menggantung.

Manusia di hadapanku ini semakin terlihat mengenaskan. Butir-butir keringat meluncur di dahinya. Sebagian sudah sampai di pipinya. Ada kemungkinan dia sudah akan pingsan dulu sebelum aku menyelesaikan penjelasanku ini. Bahagianya, siang ini aku merasa menjadi Tuhan. Kubuka rapor Ardi. Kuhadapkan ke arahnya. “Semester ini Bu, nilai Ardi kurang memuaskan. Seperti yang Ibu lihat di sini.” Kutunjuk dengan jariku. “Agama, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, dan SBK ada di bawah KKM. Jadi ada lima mata pelajaran yang ada di bawah KKM ….” Tangannya sampai gemetar menerima buku rapor ini. “Tidak naik, Bu? Benar-benar tidak bisa ditolong?” Kalau teringat bagaimana dia mengangkat dagunya, ekspresinya kali ini tampak begitu menggelikan.

Kubuka halaman sebelumnya, rapor semester satu. “Semester satu juga ada lima mata pelajaran yang di bawah KKM. PKn, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, dan SBK ….” Sengaja aku berhenti untuk memandang wajahnya. Aih, aih. Seperti habis kecopetan uang semilyar! Dia membolak-balik halaman rapor anaknya. “Lima mata pelajaran, ya?” Suaranya tersendat di kerongkongan. Aku tersenyum. Lebar. Kini tidak kututup-tutupi. “Lima, Bu ….” Matanya nanar menatap angka-angka itu. Senyumku semakin lebar. “Ibu, tapi setelah dirata-rata, ternyata hanya empat mata pelajaran saja yang di bawah KKM. Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, dan SBK ….” Dia melongo, tak menyangka. “Ja … jadi … Bu?” Kini aku ingin tertawa. “Masih naik, Bu. Walau mepet ….”

Seketika wajahnya menjadi bercahaya. Berbinar-binar, seperti seribu kunang-kunang beterbangan mengitarinya. “Syukurlah!” Dia tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. “Syukurlah!” Dia mendekap rapor anaknya dalam dadanya yang terlalu penuh itu. “Syukurlah!” Aku manusia biasa, aku menyimpan dendam. Aku pun pantas membencinya, karena aku punya harga diri. Tapi aku juga masih punya nurani. Tidak mungkin aku mengubah angka-angka itu. Walaupun hal itu sebenarnya sangat mudah bagiku. Tidak akan ada seorang pun yang bertanya mengapa anak itu tinggal kelas. Dunia akan memakluminya. Sudahlah. Aku sudah sangat puas melihat perempuan berpantat dan berdada terlalu bulat yang angkuh itu hampir mati ketakutan. Itu saja cukup. Dendamku sudah terbalaskan.

RESENSI NOVEL

Judul : AYAT AYAT CINTA

Penulis : Habiburrahman El Shirazy

Penerbit : Republika

Hal : ix + 418

Nama : Fitria Krisna H.

Kelas : XI-Bahasa

SINOPSIS

Penasaran sekali dengan novel ini. Apa sih isinya? Dan seperti apa? Sampai heboh dimana-mana.

Awal baca, aku sedikit menyalahkan beberapa orang yang meresensi. Masa seperti ini novel sih? Kupikir malah terlalu banyak teori. Belum lagi istilah-istilah asing yang sangat banyak. Semakin membaca, istilah asingnya semakin banyak, ada Arab, Jerman dan Inggris hi..(kalau Inggris sih, dasar sayanya yang emang minimal banget). Jadi kepikir kalau aku nulis istilah nihonggonya kebanyakan, emang bener, bakalan banyak diprotes orang.

Tapi bukan berarti tidak menarik. Kurasakan perasaan yang sulit diungkapkan, membaca di zaman seperti ini, ada orang yang haus ilmu. Mengaji pada seorang ustadz. Dengan jarak puluhan kilometer, ditempuh dalam waktu tidak sebentar. Sungguh, itu sebuah kabar yang jarang sekali kudengar. Biasanya adalah menceriterakan kisah salafushsholih saat menuntut ilmu. Tapi ini dijaman sekarang? Apalagi itu dilakukan dalam keadaan terik matahari musim panas di Mesir yang mencapai 40 derajat lebih. Subhanalloh. Eh, aku justeru nangisnya di sini. Di belakang-belakang saat adegan-adegan ‘novel’ kok malah ga keluar air matanya ya? Menurutku sih kisah percintaannya biasa-biasa saja.

Ada juga saat menceriterakan mimpi Fahri saat bertemu dengan Ibnu Mas’ud. Membuat perasaan saya ikut mengharu-biru.Tidak salah memang kalau novel ini disebut novel penggugah jiwa. Ada memang beberapa yang kulompat membacanya. Gimana ya, terlalu ilmiah yang menuntut untuk berpikir. Tidak beda dengan membaca buku fiksi, dan yang pasti karena nggak sabar dengan cerita yang dibilang orang-orang seru. Mana sih adegan empat orang wanita yang mencintai Fahri ini?

Di pertengahan lebih buku itu, aku baru merasa membaca novel. Adegan demi adegan mengalir bagus. Kisah Fahri yang ingin menikah, kemudian ada perang batin di saat-saat memutuskan untuk menikah, karena ada wanita lain.

Ada adegan-adegan sepasang pengantin baru disini. Kata pengantarnya, jadi benar-benar seperti novel asmara (ah, apakah novel asmara harus seperti itu??) Saya membayangkan bila belum nikah, baca itu rasanya mungkin risih juga...

Selanjutnya ada adegan dalam penjara Mesir saat Fahri dipenjara. Itu juga mengingatkan saat-saat para ulama dipenjara. Tak jauh dari masalah keluarga dan wanita. Poligami. Dengan siapa?? Baca aja sendiri he..Happy/sad ending yah novel ini? Akhir cerita memang syahdu, tapi rasanya bukan sad ending. Karena setelah itu rasanya Fahri bahagia bersama isterinya. Akhirnya, buku ini (bukan novel he..) bisa dibaca oleh semua orang. Bagi yang masih kurang menyukai novel, buku ini tidak melulu adegan-adegan kehidupan seperti novel-novel pada umumnya. Banyak sekali ilmu di dalamnya. Dalam dunia penulisan, seringkali dibilang kalau bisa jangan terlalu “ini ibu Budi” sekali dalam menuliskan hikmah. Namun dalam buku ini tidak hanya “ini ibu Budi..” bahkan banyak dalil-dalil didalamnya Mulai dari masalah pandangan wanita dalam Islam, pergaulan dengan non muslim dan banyak lagi. Namun saya merasakan tidak digurui. Mungkin karena dalam konteks ini malah justeru kelihatan ilmiah.

Dan bagi yang masih malas membaca buku-buku yang ilmiah, buku ini juga cocok karena dipadukan dengan kisah yang sangat menawan.

Hemmm...intinya sih, saya puas baca buku ini. Bagus.