Sabtu, April 24, 2010
TUGAS CERPEN
TUGAS SASTRA
Kelas : XII Bahasa
Puisi (4)
Sahabat
Sahabat tak obahnya atmosfher
Yang melindungi semua makhluk di bumi
Dengan merdam sebuah energi besar
Menjadi sumber dari segala kehidupan
Dia bukanlah bagian asli dari fisik
Seperti atmosfher yang hanya berada di sekitar
Membantu kita dari semua masalah
Dengan merubah setiap beban berat di sepanjang jalan
Menjadi sejumlah butiran batu-batu kecil
Yang nantinya akan dimainkan bersama
Satu hal yang perlu kau ingat sahabatku
Jika kau sahabatku
Maka aku adalah sahabatmu
Jangan sungkan
Jangan segan...
Ucapkan, dan ungkapkan
Semuanya...
Kita tak penah tahu
sampai kapan atmosfher bertahan
bahkan oleh karena ulah bumi
di sepanjang perputarannya
tapi bumi tetap butuh itu,
untuk itulah manusia melakukan “go green”
dan untuk itulah aku sampaikan ”ma’af”
sekiranya kau terluka olehku
dunia ini luas
hingga langit ke tujuh
dan di tiap-tiap langit itu
kau akan temukan atmosfher yang lain
yang mungkin lebih baik dari yang ini
Yang Kukenang
Pagi menyambutku
dengan senyummnya
yang selembut senyummu
Fajar menyapaku
dengan sapaannya
yang semanis sapaanmu
Bulan melihatku
dengan tatapannya
yang seindah tatapanmu
Namun,
senyummu, sapaanmu, tatapanmu
meninggalkanku perlahan
Saat kusadari,
semua itu hanya kenangan
yang kukenang darimu.
banyak mimpi yang tercipta..
angan pun melayang.. hayalkan sebuah kisah..
kisah-kisah yang terindah..
dan bila cinta tlah bertepi,, di pelabuhan dambaan hati..
tuada lagi rasa gelisah
kini yang ada hanya masa-masa indah
tiada lagi angan dan hayalan,, karna mimpi tlah jadi nyata..
hari-hari terasa indah,, mentari selalu bersinar cerah..
awan mendung se’akan sirna
tiada lagi malam sepi,, karna bintang hiasi hati
karna bulan temani indahnya malam
tiada lagi tangis sedih,, karna cinta tlah terbalas
merubah segalanya jadi lebih indah..
TUGAS PUISI
Jumat, April 23, 2010
tugas sastra indonesia
Nurjanah mencoba memejamkan mata kembali dengan mukena yang masih menutupi lekuk tubuhnya berbaring di sajadah yang terhampar di lantai kamar, matanya memang tertutup namun jiwanya berkelana tak terbatas ruang dan waktu. mencoba kembali menjelajahi kisah hidupnya yang masih sepenggalan waktu di dunia. hidup yang hanya sebentar namun telah di isi dengan segala macam kepedihan dan luka yang akan terus mengganggu sepanjang masa. ”mengapa semua ini harus terjadi ?” hanya itulah pertanyaan yang selalu menghantui. belum lama dia memenuhi kewajiban sebagai seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya dengan merelakan diri di jodohkan dengan seorang laki-laki yang sama sekali tidak di kenal,seorang lelaki yang berbadan tegap raut wajah memang teduh dengan senyuman manis selalu menghias, tingkat kesopanan yang di tunjukan di atas rata-rata, perempuan mana yang tidak akan jatuh hati memandangnya? sungguh keberuntungan yang datang tanpa dia impikan sebelumnya saat sang ayah mengenalkan sosok laki-laki itu sebagai calon suaminya, tapi tidak banyak orang yang bisa dia ajak berbagi rasa dengn semua kegembiraan itu, kehidupanya selama ini mengharuskan dia terjebak dalam lingkungan aturan agama dan ketegasan ayahnya sebagai seorang ulama, tidak ada yang di sesali sejauh itu sebelum cerita berganti dengan kenyataan pahit yang harus di telan mentah-mentah.
Nurjanah menghela nafas panjang, matanya rapat terpejam mencoba menerima segala kenyataan hidupnya. Sebelum menikah sudah sejak lama dia tahu banyak lelaki yang menaruh hati bahkan tak segan-segan mencoba mengungkapkannya langsung meski harus mencuri-curi pandang saat ayahnya tidak memperhatikan. Sebenarnya dia heran juga, apa sebenarnya yang lelaki kagumi dari dirinya? Sepanjang hari tubuhnya selelu ditutupi dengan busana yang menutup dari atas ke bawah, hanya matanya saja kadang yang terlihat bahkan seringkali harus ditutupi dengan kacamata hitam bila harus keluar rumah ditengah terik mentari. Sehingga akhirnya dia mengambil kesimpulan banyak lelaki yang tertarik dengannya karena sosok sang ayah merupakan ulama terkenal dan disegani didaerah setempat. Kesimpulan yang menjauhkan diri dari rasa riya dan kesombongan terhadap penilaian diri yang berlebih.
Mentari masih saja sembunyi di balik kabut, atau sebenarnya kabut tidak rela bila mentari menerangi bumi? Entahlah, kebingungan yang mungkin sama dengan yang dirasakan nurjanah saat ini. Matanya terbuka mencoba mengikuti gerak tangannya yang meraba-raba perutnya yang membuncit. Usia kandungannya baru beberapa bulan, rasa mual masih sering timbul dengan permintaan masa ngidam yang aneh-aneh. Sekarang ini jangankan memenuhi segala keinginannya, mencoba bertanya pun malah tidak ada seorang pun yang berani melakukannya. Kini hidupnya semakin terasing diantara riuh rendah suara-suara manusia yang nyaring terdengar. Dulu dalam keterasingannya dia menerima dengan ikhlas sebagai bukti bakti dan patuh menjalankan perintah agama, orang-orang diluar pun tidak ada yang berkomentar buruk bahkan mereka merasa ikut bangga dan salut dengan hidupnya yang agamis.
“ Nur…,” Tiba-tiba tersdengar suara lirih ibunya dari depan pintu kamar diselingi ketukan-ketukan ringan di daun pintu.
“ Nurr, banguuun. Pak polisi minta kita segera bersiap, kita berangakat sebentar lagi”
Suara ibunya kemudian hilang, apa yang kemudian terjadi tidak diperhatikannya lagi. Mata nurjanah kembali terpejam dengan linangan air mata yang membasahi pipi. Amar, lelaki yang di jodohkan ayahnya menjadi suaminya ternyata adalah tersangka peledakan bom. Teroris yang sudah sejak lama diburu aparat kepolisian. Tidak ada yang mengira bahkan dirinya sendiri pun tidak pernah menyangka, suaminya akan bernasib tragis, tewas berlumuran darah dengan lobang peluru menembus tubuhnya disana- sini. Kondisi manusia yang berlumuran darah seperti itu pernah dia lihat di berita televisi saat korban bom di sebuah hotel sedang dievakuasi. Kini dia harus melkihat langsung bahkan manusia itu adalah Amar, suaminya, Inikah buah dari perbuatan suaminya? Tidak ada seorang pun yang berani menjawabnya Sambil meraba perutnya yang buncit, Nurjanah semakin menangis tersedu.
“ Bagaimana anakku nanti bila memngetahui bapaknya seorang teroris?”
Selasa, Maret 30, 2010
Tugas Puisi
De Javu
Karya : Siti Rohmah Maryani
Hilang
Karya : Siti Rohmah Maryani
Keindahan yang Hanya Sebuah Kenangan
Karya : Siti Rohmah Maryani
Harapan yang Tersisa
Karya : Siti Rohmah MaryaniJumat, Juni 26, 2009
Minggu, Juni 21, 2009
Jumat, Juni 19, 2009
tugas sastra: novi rovika
Karya: Novi Rovika Kls XI-bhs
Riuh rendah angin muspara
Se-ia dengan realita
Bertarung dengan bisingnya kehidupan
Angina muspara …
Jangan sampai terbuai olehnya!
Sekalipun karena takdir
Dengan apa kau kan melawannya?
Dengan kesabaran.
Sabar. Seperti rumput gajah yang selalu sabar,
Menari-nari kemanapun angin membelai
Semua arah mata angin …
laiknya pola irama tarian
bukan tak ingin menjadi batu karang
hanya kadang, ciut nyali
tinggalkan saja keraguan dan ketidakpercayaan itu
pilih, jadi batu atau sampah
Cerpen
AKU NGERTI
Karya: Novi Rovika
Hidup adalah permasalahan, memang begitulah hidup. Itulah yang sedang menderaku. Sedih, bingung, bahkan tak tahu apa ini. Otakku dipenuhi pikiran-pikiran yang membuat hari ini serasa gak akan pernah hidup lagi.
Tak biasanya aku merasa ada yang beda saat aku hendak pulang ke rumah. Sesampainya di depan jalan yang menghubungkan sekolah dan rumahku, langkahku terasa lebih cepat. Entah apa yang membuatku ingin segera sampai di rumah.
“ srek..srek..srek..”
Suara itu terdengar dari kamar kak Ebie, kakakku. Aku heran melihat dia memasuk-masukan pakaian ke dalam ranselnya.
“ cepat ganti baju, semuanya ikut pergi mengantar ibu! ”
Ucap kakak sembari memandangku sendu. Aku heran sebenarnya ada apa dengan ibu, tapi rasa penasaranku…
“ memangnya sakit ibu parah lagi? Terus dibawa ke dokter mana? “
Tapi kakak tak menghiraukan pertanyaanku. Entahlah aku jadi makin penasaran.
Setelah kami siap, segera kakak meluncurkan motornya. Kami berbelok arah, aku tahu ke mana kami akan pergi.
Masih tersimpan dalam ingatanku, waktu aku kecil dulu kalau ibu punya uang pasti dia mengajakku ke tempat yang ku lewati barusan sengaja untuk membeli bakso kesukaanku. Hm.. sangat menyenangkan sekali jadi anak kecil, kalau saja aku bisa meminta aku akan meminta pada Allah agar aku jadi anak kecil terus. Tapi itu permintaan yang konyol. Tiba-tiba saja aku terdorong ke depan,
“ kakak ngerem gak bilang-bilang! ”
Sungut ku sambil membetulkan posisi duduk. tapi seperti tadi, kakak hanya meresponku acuh.
Tak terasa adzan maghrib berkumandang, kalau saja kakak tahu aku sedang berpuasa karena hutangku ramadhan kemarin kakak pasti mengajakku mampir sebentar di warung untuk sekedar membatalkan puasaku. Tapi nihil, biar saja aku tahan.
“ kita langsung ke rumah sakitnya saja ya! “
Ucap kakak dengan suara parau. Aku heran, memangnya kakak kapan nangisnya. Jadi tambah bingung, memangnya kenapa ibu harus di bawa ke rumah sakit segala.
Urusan perut emang gak bisa diajak kompromi, usahaku untuk menahan bunyi demo di dalam abdomenku membikin aku tak peduli dengan pertanyaanku tadi.
Akhirnya sampai juga. Aku perhatikan kakakku saat membuka helmnya, sekedar untuk memastikan apa matanya sembab setelah tadi aku mendengar suaranya yang parau. Ternyata tidak, hanya sedikit kusut mungkin karena pakai helm yang terlalu kekecilan.akh, aku ngaco.
Kami langsung menuju kamar yang disebutkan kakak, aku jadi gak sabar ingin segera ketemu ibu. Di sepanjang koridor jalan banyak keluarga pasien yang lalu lalang, ataupun hanya sekedar duduk-duduk. Aku pikir akan sepi, pasalnya ini kan sudah waktunya shalat maghrib.
Tak lama. Saat aku mendongkakkan kepalaku ke sebuah pintu ruangan yang nomornya tidak sempat ku lihat. Tubuhku serasa mau rubuh, seketika itu juga air mataku meleleh. Rasa takut itu mulai datang, tiba-tiba ada sedikit penyesalan. Dalam hati aku bergumam..
“ kenapa aku tadi tidak cepat pulang! “,
Air mataku terus meleleh. Hampir saja aku terjatuh tapi aku harus kuat, aku tidak boleh terlihat cengeng di depan kakakku apalagi di depan ibu. Sesosok wanita yang selalu mengomeliku karena susah makan dan mengingatkanku untuk tidak lupa shalat. Kini hanya terkulai lemah di atas kasur dengan selang infuse di pergelangan tangannya.
Kakak pergi ke luar untuk shalat sembarimembeli makanan. Aku shalat di kamar tempat ibu di rawat. Tak henti-hentinya aku menangis dalam do’aku,
“ aku tak ingin ibu begini, kenapa tidak aku saja ya Allah. Aku sanggup menggantikan posisi ibujika Kau menghendaki. Aku serasa tak berguna di saat seperti ini, yang aku bisa hanya cengeng. Kalaupun Engaku menghendakinya untuk bersama-Mu sekarang, aku belum siap. Aku tak akan kuat menerimanya, aku belum siap berstatus yatim. Aku tak mau itu terjadi “.
“ Apa aku anak yang selalu ibu banggakan itu, yang tak bisa berbuat apa-apa disaat ia lemah melawan penyakit yang selama ini dideritanya. Ya.. Allah, sembuhkanlah ibu. Agar aku bias mendengar omelannya lagi, agar aku bisa melihat senyumnya lagi. Amin ya… rabbal ‘alamin…”.
Ya ampun! Ternyata dari tadi kakak melihatku, aku benar-benar kaget. Biarlah, ini kan wajar. Tapi tetap saja aku malu. Ia menyodorkan bungkusan nasi yang di belinya barusan, sembari aku makan kakak menasehatiku.
“ kakak juga tidak tahu kenapa ibu bisa drop lagi, padahal kemarin ibu terlihat seperti ada kemajuan. Kakak kira sudah mendingan. Eh… ternyata malah jadi begini. Makanya mulai sekarang kamu harus terus jagai ibu “.
“ Ibu tuh tadi sebelum dibawa ke sini bukannya mikirin penyakitnya tapi dia malah nanyain kamu. Ibu bilang kalau kamu pulang suruh jangan lupa shalat terus kalau sudah adzan maghrib langsung makan …”.
Aku nangis sesenggukan, tumpah lagi air mataku. Entah, ibu mana yang bisa menggantikan posisinya jika memang sekarang saatnya. Tidakada!. Aku hanya ingin ibu, satu ibu yang kini tengah terkulai lemah.
“ ayah dan kakak-kakak yang lain sudah pulang duluan tadi, assyah bilang kamu dulu yang jaga ibu duluan besok ayah menggantikan “.
“ …..kamu ngerti kan, betapa sayangnya ibu sama kita semua. Sama kamu. Betapa ia membutuhkan kamu disaat seperti ini. Kamu harus jagain ibu, berdo’a terus buat ibu. Ibu pasti sembuh “.
“ aku ngerti! “.
tugas sastra : fitria krisna
Seribu cahaya berkesiur
Di sepanjang musim gugur
Merentangkan sunyi antara
Patung-patung dan air mancur
Ketika kuteriakkan sepi sahut
Sang burung pun seakan mengisak perih
Ketika ku rasa kelam siang ku pun terasa tenggelam
Bersama angin yang membelai raga
Tetes demi tetes air hujan yang berjatuhan
Seakan menjadi musik pengiring dalam kelamku
Hari ini aku berdiri gontai tak bertenaga
Harapku dalam hati semoga ada yang sudi
Memapahku berdiri tegak
Judul buku : Mengatur rencana
Pengarang : Enid Blyton diterjemahkan oleh Agus Setiaaji
Penerbit : PT. Gramedia,
Tahun terbit : 1981
Tebal buku : 37 halaman
SINOPSIS
Pesta Malam Api adalah sebuah pesta yang diadakan oleh orang-orang Inggris untuk mengenang komplotan pengebom Guy Fawkes atau yang terkenal dengan Guy Fawkes’s Gunpowder plot. Komplotan ini adalah pelaku pemboman gedung parlemen Inggris (Houses of Perliament) pada tanggal 5 November 1605. Setiap tanggal 5 November warga Inggris mengadakan pesta malam api untuk memperingati tragedy tersebut. Pada pesta itu mereka membuat boneka laki-laki berukuran besar, didandani dengan pakaian tua menyerupai tokoh Guy Fawkes. Boneka itu didudukan di atas kursi kemudian di bakar secara beramai-ramai dalam api unggun dengan iringan letusan mercon dan kembang api. Pesta pembakaran biasanya diadakan di sebuah lapangan, di atas bukit, atau di tanah perkemahan.
Bottom of Form
CERPEN
Diam-diam aku memerhatikannya sedari tadi. Dari tempatku duduk sebagai notulen, gerak-geriknya terbaca jelas. Sangat jelas. Bahkan orang bodoh pun tahu, dia sangat gelisah. Dia baru tiba saat pembawa acara baru saja selesai membacakan agenda pertemuan hari ini. Rambut panjangnya yang tergerai berayun-ayun mengikuti langkahnya yang tergesa. Sesaat dia berhenti di ambang aula. Matanya berkeliling mencari-cari tempat duduk yang kosong. Hanya kursi di barisan depan yang masih tersisa. Dengan enggan, tapi berusaha tetap terlihat elegan, dia pun mengambil tempat duduk di kursi pojok barisan depan. Jauh dari orang tua murid yang lain.
Sedari tadi dia tidak tenang. Seperti ada bara di bawah pantatnya yang menggunung itu. Pantat yang terlalu kencang untuk perempuan yang sudah tiga kali melahirkan. Memang sering kali kulihat mobilnya terparkir di depan fitness center di samping sekolah. Tapi aku curiga, pantat itu bukan hanya didapatnya melulu melalui latihan-latihan di fitness center itu. Entah apa yang sudah dijejalkannya di dalam
Sesekali dihelanya nafasnya. Beban ribuan ton rupanya menimpa dadanya yang penuh (terlalu penuh juga untuk ukuran perempuan yang sudah tiga kali melahirkan?). Sebentar kaki kanannya disilangkan ke kaki kirinya. Sebentar kemudian diturunkannya. Ganti kaki kirinya yang disilangkan ke kaki kanannya. Begitu seterusnya. Kini kedua kaki langsingnya sedang mengetuk-ngetuk lantai tanpa irama. Untung saja bunyi ketukan sandalnya tertelan gemuruh suara orang-orang berbisik di aula ini. Sementara itu kepalanya terus berkeliling. Kalau tidak menunduk berlagak mencari-cari sesuatu dari dalam tas kulit merk luar negerinya. Sekilas dapat kulihat setitik keringat meluncur di dahinya yang putih mulus. Tentu saja keringat itu tak akan melunturkan riasannya. Maklum harga seperangkat make up yang dikenakannya setara dengan sebulan gajiku sebagai guru di sini.
Aku terpaksa mengangguk (sok) ramah padanya ketika tatapan kami bertemu. Sekedar untuk menyembunyikan seringai yang terlanjur muncul di ujung bibirku. Dia membalasku dengan anggukan dan senyuman teramat tipis sembari dengan angkuh mengangkat dagunya. Kini benar-benar kunampakkan seringaianku, tanpa usaha untuk menutupinya lagi. Sesaat kemudian aku berpaling, kembali berlagak serius mendengarkan paparan kepala sekolah mengenai pencapaian-pencapaian sekolah kami di tahun ajaran ini. Paparan yang terlalu panjang dan terlalu lebar. Membosankan. Kenapa tidak langsung ke menu utama saja, pengambilan rapor. Aku sudah tak sabar.
****
Tinggal kami bertiga di ruang kelas ini. Aku yang sedang melayani Bu Mira, dan dia yang duduk dengan gelisah di deretan kursi tunggu yang kosong. Perilaku gelisahnya sama persis dengan sewaktu dia ada di aula tadi: pantat digeser-geserkannya, kaki ditopangkan bergantian kalau tidak diketuk-ketukan di lantai, pandangan berkeliling atau menunduk berlagak mencari-cari sesuatu dalam tas, maupun jam tangan yang berkali-kali ditengoknya. Dagunya mendongak setiap kali mata kami bersitatap. Dasar angkuh! Aku tahu dia sedang memakiku habis-habisan dalam hatinya. Biar saja, memang kusengaja. Setelah pertemuan di aula selesai, para orang tua dipersilakan masuk ke ruang kelas anak mereka masing-masing untuk menerima pembagian rapor. Dan kira-kira sejak dua jam yang lalu dia sudah duduk di sini menunggu giliran kupanggil menghadapku untuk mendapatkan rapor anaknya.
Dari
“Ibu ini bisa aja!” Bu Mira tertawa panjang. Muka putihnya bersemu merah. Bu Mira bercerita kalau Rachel baru saja menjadi juara satu lomba wajah fotogenik. Aku bilang pantas saja, karena dia mewarisi kecantikan ibunya. Gombal sekali memang, tapi yang seperti ini orang tua murid suka. Dimasukkannya rapor, laporan perkembangan, dan beberapa lembar pengumuman ke dalam tas, lalu dikeluarkannya sebuah bungkusan dari dalam tasnya.
“Rachel sendiri yang memilih, Bu. Semoga suka!” Tangannya mengangsurkan sebuah kotak kecil yang terbungkus kertas kado bergambar kartun Naruto. “Aduh, malah merepotkan!” kataku berbasa-basi, “terima kasih banyak lho, Bu!”
“Ah, biasa aja! Terima kasih banyak Bu, sudah membimbing Rachel. Maaf, sudah banyak merepotkan!”
“Tidak apa-apa, Bu, sudah menjadi tugas saya!” Jawaban ini sudah secara mekanis keluar dari mulutku setiap semesternya.
“Mari Bu, saya permisi!” Bu Mira beranjak keluar ruang kelas.
“Terima kasih, Bu. Salam buat Rachel!”
Kutumpukkan bingkisan dari Bu Mira di atas bingkisan-bingkisan orang tua murid sebelumnya. Selain bingkisan-bingkisan itu ada beberapa amplop di dalam laci mejaku. Hatiku bertanya-tanya, apa gerangan yang dibawa oleh perempuan yang kini sedang melangkah menghampiriku ini. Setelah parcel segede gunungnya yang kukembalikan seminggu yang lalu! Hari gini menyogok guru agar mau mengatrol nilai! Rupanya dia sudah merasa rapor anaknya bakalan jelek. Ardian, anaknya, memang berkebutuhan khusus. Gangguan konsentrasinya membuatnya sulit mengikuti pelajaran. Nilai-nilainya selalu di bawah teman-temannya. Tidak hanya itu, agaknya dia juga mulai sadar kalau kelakuannya padaku selama ini bisa saja membuatku mengurangi nilai-nilai anaknya.
Sebenarnya kesempatan ini sudah kutunggu-tunggu. Pembalasan dendamku untuk perempuan berpantat terlalu kencang dan berdada terlalu penuh yang angkuh ini. Di sinilah ajang pembuktianku bahwa aku bukan orang sembarangan. Bahwa aku punya kekuasaan. Kalau sebenarnya dia tidak bisa macam-macam denganku. Sebagian masa depan anaknya aku yang menentukan. “Mari, Bu, silakan duduk!” Tanpa sepatah kata dia hanya tersenyum tipis, duduk di hadapanku. Senyum bernada segan. Bukan senyum sinis seperti yang beberapa kali dilemparkannya padaku, saat dia mencercaku. Untuk penilaian-penilaiannya padaku: guru konvensional, guru pilih kasih, guru yang kurang perhatian, dan lain-lain.
Aku berlagak sibuk menyiapkan rapor, laporan perkembangan, dan beberapa lembar pengumuman yang akan kuberikan kepadanya. Sedangkan sudut mataku mencuri-curi pandang wajah cemasnya. Wajahnya yang pucat. Seperti aku ini hantu baginya. Dalam hatiku tertawa. Mati kau, kutukku. Kutumpukkan berkas-berkas yang akan kuberikan padanya di sudut meja. “Selamat pagi, Bu!” Kataku sambil menjabat tangannya yang dingin. Tangan yang pernah melemparkan kertas ulangan anaknya ke mukaku, sembari berkata kalau percuma saja bayar mahal-mahal kalau lagi-lagi dapat nilai
Lagi-lagi dalam hatiku tertawa. Teringat aku bagaimana dia meneleponku malam-malam, tanpa ucapan selamat malam, hanya untuk menanyakan keberadaan pensil atau penghapus anaknya yang hilang. Setengah mati aku berusaha menyembunyikan tawaku. “O ya, Bu. Mohon maaf sebelumnya. Kemarin terpaksa saya mengembalikan bingkisan Ibu. Bukannya apa-apa, Bu. Peraturan sekolah melarang guru menerima bingkisan dari orang tua murid sebelum rapor dibagikan. Saya tidak berani melanggarnya, Bu. Semoga Ibu maklum.” Padahal mana ada sekolah mengatur perihal itu. Macam pejabat saja, dilarang menerima gratifikasi. “Tidak apa-apa, Bu. Saya yang minta maaf. Saya tidak tahu ada peraturan seperti itu di sini. Di sekolah Ardian yang dulu diperbolehkan. Saya hanya bermaksud mengucapkan terima kasih saja.” Dia menelan ludah sebentar. “O ya, bagaimana Ardian, Bu Lily?” Wajahnya terlihat sangat memelas. Layaknya pengemis yang sudah tiga hari tidak makan memohon sedekah saja. Ke mana gerangan dongakan dagunya yang angkuh itu? Ho ho, betapa aku rindu!
Kuambil tumpukan berkas di sudut meja. Sengaja tidak segera kuserahkan kepadanya. “Mohon maaf, Bu. Sejak kepindahan Ardi awal semester dua ini, saya sudah berusaha sebaik mungkin membimbing Ardi ….” Kalimatku menggantung. Berkas-berkasnya masih di tanganku. Wajahnya seperti orang yang sudah mati saja. Seperti tidak ada lagi darah yang mengalir di pembuluh darahnya. Matanya berkaca-kaca. Bibirnya gemetar. “Ja … jadi … bagaimana, Bu? Bisa tidak naik ke kelas tiga?” Pertanyaannya lebih terdengar sebagai ratapan.
Tapi aku tidak juga jatuh iba. Seperti ketika dia memohonku untuk melupakan apa yang pernah dilakukannya padaku. Mengiba-iba meminta maaf. Semata-mata karena dia takut sakit hatiku akan mempengaruhi nilai rapor anaknya. Ataupun ketika seminggu yang lalu dia memohonku “kebijaksanaanku” untuk menaikkan anaknya. Dia tidak tahu di mana dia akan menaruh mukanya jika anaknya lagi-lagi tidak naik kelas. Berkas-berkasnya masih kutahan. Biar kunikmati dulu penderitaannya ini. Nikmat, sungguh nikmat! “Seperti yang Ibu ketahui sebelumnya, sekolah kita memang berbeda dengan sekolah yang lain, Bu. Berbeda dari sekolah Ardi sebelumnya. Dari segi metode maupun substansi pembelajarannya. Tapi tetap saja kita mengacu pada peraturan dinas pendidikan, karena kita pakai kurikulum nasional, Bu. Mungkin Ibu juga sudah tahu. Sebagai syarat kenaikan kelas, rata-rata nilai rapor siswa semester satu dan dua tidak boleh lebih dari,” sengaja kuberi penekanan, “empat mata pelajaran yang di bawah KKM…” Akhir kalimatku kembali menggantung.
Manusia di hadapanku ini semakin terlihat mengenaskan. Butir-butir keringat meluncur di dahinya. Sebagian sudah sampai di pipinya.
Kubuka halaman sebelumnya, rapor semester satu. “Semester satu juga ada
Seketika wajahnya menjadi bercahaya. Berbinar-binar, seperti seribu kunang-kunang beterbangan mengitarinya. “Syukurlah!” Dia tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. “Syukurlah!” Dia mendekap rapor anaknya dalam dadanya yang terlalu penuh itu. “Syukurlah!” Aku manusia biasa, aku menyimpan dendam. Aku pun pantas membencinya, karena aku punya harga diri. Tapi aku juga masih punya nurani. Tidak mungkin aku mengubah angka-angka itu. Walaupun hal itu sebenarnya sangat mudah bagiku. Tidak akan ada seorang pun yang bertanya mengapa anak itu tinggal kelas. Dunia akan memakluminya. Sudahlah. Aku sudah sangat puas melihat perempuan berpantat dan berdada terlalu bulat yang angkuh itu hampir mati ketakutan. Itu saja cukup. Dendamku sudah terbalaskan.
RESENSI NOVEL
Judul : AYAT AYAT CINTA
Penulis : Habiburrahman El Shirazy
Penerbit : Republika
Hal : ix + 418
Nama : Fitria Krisna H.
Kelas : XI-Bahasa
SINOPSIS
Penasaran sekali dengan novel ini. Apa sih isinya? Dan seperti apa? Sampai heboh dimana-mana.
Awal baca, aku sedikit menyalahkan beberapa orang yang meresensi. Masa seperti ini novel sih? Kupikir malah terlalu banyak teori. Belum lagi istilah-istilah asing yang sangat banyak. Semakin membaca, istilah asingnya semakin banyak, ada Arab, Jerman dan Inggris hi..(kalau Inggris sih, dasar sayanya yang emang minimal banget). Jadi kepikir kalau aku nulis istilah nihonggonya kebanyakan, emang bener, bakalan banyak diprotes orang.
Tapi bukan berarti tidak menarik. Kurasakan perasaan yang sulit diungkapkan, membaca di zaman seperti ini, ada orang yang haus ilmu. Mengaji pada seorang ustadz. Dengan jarak puluhan kilometer, ditempuh dalam waktu tidak sebentar. Sungguh, itu sebuah kabar yang jarang sekali kudengar. Biasanya adalah menceriterakan kisah salafushsholih saat menuntut ilmu. Tapi ini dijaman sekarang? Apalagi itu dilakukan dalam keadaan terik matahari musim panas di Mesir yang mencapai 40 derajat lebih. Subhanalloh. Eh, aku justeru nangisnya di sini. Di belakang-belakang saat adegan-adegan ‘novel’ kok malah ga keluar air matanya ya? Menurutku sih kisah percintaannya biasa-biasa saja.
Ada juga saat menceriterakan mimpi Fahri saat bertemu dengan Ibnu Mas’ud. Membuat perasaan saya ikut mengharu-biru.Tidak salah memang kalau novel ini disebut novel penggugah jiwa. Ada memang beberapa yang kulompat membacanya. Gimana ya, terlalu ilmiah yang menuntut untuk berpikir. Tidak beda dengan membaca buku fiksi, dan yang pasti karena nggak sabar dengan cerita yang dibilang orang-orang seru. Mana sih adegan empat orang wanita yang mencintai Fahri ini?
Di pertengahan lebih buku itu, aku baru merasa membaca novel. Adegan demi adegan mengalir bagus. Kisah Fahri yang ingin menikah, kemudian ada perang batin di saat-saat memutuskan untuk menikah, karena ada wanita lain.
Ada adegan-adegan sepasang pengantin baru disini. Kata pengantarnya, jadi benar-benar seperti novel asmara (ah, apakah novel asmara harus seperti itu??) Saya membayangkan bila belum nikah, baca itu rasanya mungkin risih juga...
Selanjutnya ada adegan dalam penjara Mesir saat Fahri dipenjara. Itu juga mengingatkan saat-saat para ulama dipenjara. Tak jauh dari masalah keluarga dan wanita. Poligami. Dengan siapa?? Baca aja sendiri he..Happy/sad ending yah novel ini? Akhir cerita memang syahdu, tapi rasanya bukan sad ending. Karena setelah itu rasanya Fahri bahagia bersama isterinya. Akhirnya, buku ini (bukan novel he..) bisa dibaca oleh semua orang. Bagi yang masih kurang menyukai novel, buku ini tidak melulu adegan-adegan kehidupan seperti novel-novel pada umumnya. Banyak sekali ilmu di dalamnya. Dalam dunia penulisan, seringkali dibilang kalau bisa jangan terlalu “ini ibu Budi” sekali dalam menuliskan hikmah. Namun dalam buku ini tidak hanya “ini ibu Budi..” bahkan banyak dalil-dalil didalamnya Mulai dari masalah pandangan wanita dalam Islam, pergaulan dengan non muslim dan banyak lagi. Namun saya merasakan tidak digurui. Mungkin karena dalam konteks ini malah justeru kelihatan ilmiah.
Dan bagi yang masih malas membaca buku-buku yang ilmiah, buku ini juga cocok karena dipadukan dengan kisah yang sangat menawan.
Hemmm...intinya sih, saya puas baca buku ini. Bagus.